narsis depan kampus

narsis depan kampus

Rabu, 29 Desember 2010

A & B part 3

siang ini Aku sibuk dengan tugas yang di berikan guru bahasa Indonesia. Tak jauh dariku ku lihat si Dina yang juga sedang sibuk membolak-balik buku yang ada di rak perpustakaan sekolah.
Tugas kali ini yang di berikan adalah tugas meresume sebuah novel tapi tugas itu harus di kumpulkan hari ini juga. Akhirnya
perpustakaan yang biasanya sepi ini mendadak ramai karena di padati para siswa yang ingin mencari referensi untuk resumenya..
“Belva”seorang gadis cantik menghampiriku dengan sebuah buku yang ada di tangannya. Wajahnya yang ayu terlihat murung.
“Ada apa, Resty?”
“Aku di ajarin dunk”
Aku hanya mengangguk sambil tersenyum. Resty adalah primadona di angkatanku. Selain Wajah orientalnya yang menarik, Resty bukanlah pribadi yang sombong. Dia tetap bergaul dengan smua kalangan di sekolah meski dia juga seorang model. Hal ini yang membuatnya semakin terkenal dan di sukai banyak orang.
Resty juga sering meminta bantuanku dan Dina jika ada materi yang tak di pahaminya. Karena Resty jarang masuk sekolah dengan padatnya jadwal pemotretan yang menyita waktu sekolahnya. Aku dan Dina pernah memberikan masukan untuk lebih mementingkan pendidikannya dari pada kariernya. Tapi Resty bilang bahwa mamanya pun tak keberatan jika ia malah justru menomorduakan pendidikannya.
Akhirnya aku dan Dina hanya bisa pasrah dengan jawaban Resty itu.
Ketika sedang asyiknya menerangkan materi pada Resty, tiba-tiba handphone Dina yang ada di sebelahku bergetar panjang, tanda ada telpon masuk.
Aku melemparkan pandangan pada Dina yang masih asyik membolak-balik lembar demi lembar buku yang di pegangnya. Kemudian aku pun berniat menjawab panggilan itu. Ada nama Axelle yang tertera di layer HP Dina.
“Halo”kataku ” Dina lagi bikin tugas,ni aku temennya. Ada perlu apa ya?Oh gitu?Ya nanti aku sampaikan. Iya sama-sama”
‘klik’
Sambungan telekomunikasi pun terputus.
Aku melanjutkan menerangkan penjelasanku pada Resty yang tadi sempat terputus. Tak lama kemudian Dina berjalan menuju meja kami.
Aku memberitaunya tentang apa yang di katakan Axelle di HP. Dina hanya mengangguk paham.
“Eh kalian kenal Axelle juga?Hm….aku naksir berat lho ma dia”celetuk Resty sambil sibuk menulis.
“Iya aku sering ma dia”jawab Dina. Resty hanya tersenyum kecut.
“Eh…habis ini ke kantin yuk,Din”ajakku segera sebelum Resty menanggapi kata-kata Dina. Karna sebenarnya walaupun Resty baik jiwa sombngnya sering muncul jika dia menginginkan sesuatu. Dan itu hanya aku yang tau karena Resty untuk hal ini sangat tertutup pada orang lain kecuali terpaksa. Pernah suatu ketika aku dan Resty sedang pergi ke sebuah toko buku untuk mencari buku novel sebagai kado ultah Dina. Kebetulan waktu itu Dina memang sedang mengincar sebuah buku dan sayangnya saat itu pula di tempat itu buku tersebut hanya tersisa satu. Akhirnya Resty harus berebut dengan pembeli lainnya yang kelihatannya anak kuliahan.
“Ini saya dulu yang pegang”kata anak kulihan itu
“Enak aja, gue dah liat ini duluan”bantah Resty smabil menarik buku novel tersebut. Hm…logat keartisannya mulai muncul.
“Res, udahan dunk. Malu ah”bisikku sambil memegangi tangannya.
“Nggak bisa, Belva!!!! Pokoknya ni buku harus jadi milik gue!!”
“Kan kita masih bisa nyari di tempat lain”bujukku lagi tapi Resty tak menghiraukan lagi kata-kataku.
Dengan sangat terpaksa aku meminta pemilik toko buku itu turun tangan.
“Saya yang beli buku ini, Pak”kata cewek itu.
“Kagak bisa!!Gue yang beli itu”kata Resty nyolot. “Gue berani bayar buku ini 10 kali lipat dari harga biasanya”
Aku dan semua orang yang mendengarnya sontak melotot tak percaya dengan omongan Resty. Termasuk si pemilik toko buku itu.
“Kenapa? Kagak percaya?”tanya Resty. Kemudian dia mengeluarkan dompet bermerk-nya dari dalam tasnya.
“Huh, banyak gaya!!”cibir anak kuliahan tersebut. “Mana mampu anak SMA kok brani bayar mahal?”lanjutnya. dan hal itu memacu amarah Resty.
Di keluarkannya isi dompet itu.
“Nih!!! Gue bayar!”kata Resty sambil mengeluarkan uang seratus ribua sebanyak lima lembar.”Kalo ada sisanya ambil aja”lanjut Resty lalu mengambil buku dari tangan anak kuliahan yang termangu tak percaya lalu menarik lenganku untuk pergi. Tapi tiba-tiba langkahnya terhenti.
“Oia…tenang aja itu uang halal kok. Gue kerja sendiri”katanya sambil melepas kacamata hitamnya.
Dan semua orang semakin terbengong-bengong melihat gadis yang membuat keributan itu adalah seorang model terkenal.
“Ya ampun, itu kan Karina Resty !!!”triak seseorang dengan histerisnya. Resty dan aku pun secepat mungkin berlari keluar dari toko itu sebelum di serbu oleh para penggemar Resty.


Resty menyenggol lenganku.
"Ya?"tanyaku sedikit kaget.
"Aku mau ngomong ma kamu"bisiknya smabil menarikku menjauh dari meja. Aku tersenyum pada Dina dan memberikan isyarat jika aku akan kembali sebentar lagi.
Dina hanya tersenyum manis.
“Ada apa sih?”tanyaku penasaran
“Kamu tau kan kalo apapun yang aku inginkan harus aku dapatkan”jawabnya santai. Aku mengangguk pelan. “Dan kamu tau juga kan kalo aku suka sama Axelle?”
“Terus?”
“Dan aku mau dia jadi milikku”
“Kenapa bilangnya ke aku? Siapa dia siapa aku?”tanyaku sewot.
“Ya kamu bilang aja ke Dina buat jauhin si Axelle”
“Hah, maksud kamu?”
“Kalo gak mau biar aku sendiri yang bilang ma Dina”
“Bentar-betar, pasti kamu ngiranya kalo si Dina pacaran ma Axelle?”
“Lho bukannya gitu ya?”
“Eh…nona Resty perlu kamu tau ya Dina dan Axelle itu Cuma sebatas teman aja gak lebih dari itu…”
“Tapi tadi…”
“Sssst, aku belum selesai!!! Mereka berdua deket karna mereka sama-sama aktivis sekolah, so jangan salah paham ya”jelasku lalu berlalu.
Aku mempercepat langkahku agar segera sampai di meja dimana Dina masih saja sibuk dengan bukunya.
“Ayo pergi”kataku sambil membereskan buku-bukuku.
“Lho mangnya napa sih?”tanya Dina bingung
“Udahlah…ntar aja jelasinnya.”
Dina mengikutiku.
Kami berdua berjalan ke kantin tapi tak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulut kami.
“Kamu kenapa?”tanya Dina lembut.
“Si Resty nyebelin banget tau gak!!”jawabku
“Iya kenapa?”
“Aku gak suka sama sifatnya yang sombong itu”
“Eh…Resty sombong? Jangan gitu dunk. Resty tu temen kita lho”
“Aku gak peduli,pokoknya aku gak suka sama cara dia bersikap untuk dapatin apa yang dia mau”
Dina terdiam saja.
“Jangan bilang kalo ini tentang si Axelle”kata Dina dengan raut muka serius
Aku mengangguk pelan.
Dina menepuk jidatnya keras.
“Mati aku!!!!!”serunya. Aku hanya mengerutkan dahi.



to be continue

Selasa, 28 Desember 2010

A & B PART 2


Siang ini aku harus pulang tanpa Dina,karena Dina bilang kalau ada rapat OSIS mendadak.
Huft…Sinar matahari siang ini sangat-sangat menyengat bahkan terasa menyakitkan di kulit ku. Sampai-sampai aku berjalan lunglai dengan kringat bercucuran yang membasahi seluruh tubuhku.
Ah...sepertinya aku butuh air sebelum aku dehidrasi dan pingsan di jalan.
Ku hentikan langkahku dan mengedarkan pandangan ke sekelilingku, mencari warung atau minimarket yang bisa aku kunjungi.
Ah...itu dia.
Aku berjalan tergesa-gesa menyebrangi jalan raya yang padat oleh kendaraan yang lalu lalang.
Rasanya aku sudah tak sabar untuk membasahi kerongkonganku yang kering ini.
Tinggal satu lompatan lagi kakiku akan mendarat di depan minimarket itu.
Tapi.......
"Ibu aku haus.Beli minum ya"rengek seorang anak umur 6 tahun pada seorang wanita paruh baya berpakaian lusuh
"Iya ibu tau,tapi ibu ga punya uang,nak"kata si wanita sambil mengelus kepala anak lelakinya itu.
Aku menghentikan langkahku dan berpura-pura berteduh di bawah pohon yang agak rindang sambil mendengarkan anak ibu itu dari jarak yang cukup dekat.
"Terus kapan ibu punya uang?Masa mau minum aja kok harus punya uang?"protesnya, mungkin bukan protes tapi semacam celetukan khas anak-anak yang kritis.
"Ibu belum tau nak,nanti kalau ibu sudah dapat pekerjaan lalu ibu punya uang. Ibu akan memberikan apa yang kamu minta. Untuk semantara ini ibu gak bisa memberikannya. Kalau kamu haus kamu basahi saja tenggorokanmu dengan ludahmu, bisa kan?"jelas si ibu dengan  sabar
"Begitu ya bu?Baiklah bu,aku akan menuruti kata ibu. Aku juga akan selalu berdoa untuk ibu supaya Allah akan melancarkan rizky ibu"
“Amiin”jawab ibu itu sambil tersenyum bangga pada anaknya.
‘Amiin’ lirihku dalam hati.
Hatiku menangis terharu mendengar perbincangan mereka.
Aku ingat apa yang slama ini aku lakukan pada kedua orang tuaku,aku tak pernah bisa menerima begitu saja jika kedua orang tuaku menolak permintaanku.
Air mataku meleleh di pipiku dengan derasnya.
Aku merasa malu.
Aku malu pada diriku sendiri, kenapa anak sekecil itu bisa dengan lapang dada menerima takdir yang telah di tuliskan untuknya. Tanpa sedikit pun rasa berontak atau mencoba menyalahkan Tuhan karena merasa bahwa Tuhan sudah bertindak tak adil padanya di bandingkan aku yang di takdirkan dengan hidup berlimpah harta dan semuanya tercukupi tapi aku tetap bahkan selalusaja merasa tak pernah puas dengan apa yang aku miliki.
Ku tatap dua hamba Allah itu,lalu ku usap air mataku di pipi kemudian aku melangkah memasuki minimarket yang sudah ada di depanku.
Tak lama kemudian aku keluar dengan kantong plastik berisi 2 botol mineral dan beberapa makanan ringan.
Aku menghentikan langkahku saat melihat ibu-anak itu berjalan lunglai di tengah panasnya sorotan mentari yang sangat tak bersahabat.
Aku tersenyum kecut.
Maafkan aku,bu...aku tak punya uang lebih untuk membantumu,semoga Allah selalu menjaga dan memelukmu dari kejamnya dunia ini.amiin.
Setelah itu aku berjalan pulang menyusuri trotoar yang masih ternaungi pohon-pohon yang tumbuh dengan lebat di bandingkan trotoar di seberang sana yang terlihat layaknya neraka tanpa naungan dari sejuknya daun-daun rindang dari pohon ini
Setelah sampai rumah aku segera membersihkan tubuhku kemudian merebakan tubuhku bersiap untuk tidur siang.
Aku menatap langit-langit kamarku dan tersenyum mengingat kejadian  pulang sekolah tadi siang.
Ah...aku tak akan melupakan hal itu sampai kapan pun.
Sebuah pelajaran hidup yang sangat tak ternilai harganya

                                                                            *****

Seorang anak perempuan kecil dengan kuncir kuda dan wajah belepotan  berlari-lari mendekati seorang ibu yang sedang duduk bersama anak lelakinya di depan kios yang tutup.
tanpa banyak berkata-kata lagi si anak perempuan itu menyerahkan sesuatu pada si wanita separuh baya itu.
si ibu mengerutkan keningnya tanda bingung.
"Ada apa nak?"tanya si ibu lembut sambil mengelus lembut pipi si anak perempuan tersebut.
"Ini untuk ibuk...."jawab anak itu sambil nyengir kuda.
"Ini apa dan dari siapa nak?"ntanya si ibu lagi.
"Dari olang"jawabnya lucu.
"Namanya?"kali ini putra ibu itu ikut bertanya.
"Atu ndak tau...katana ini buat ibuk. cudah ya atu mau puyang nanti atut di malahin ibuktu. Daa ibuk"pamit anak itu sambil berlari kecil menjauhi tempat si ibu yang masih termangu tak percaya dengan bungkusan hitam di tangannyat.
si ibu itu melongok ke dalam kantong plastik itu. kemudian matanya memebelalak lebar.
"Isinya apa bu?"tanya putranya.
"Alhamdulillah,ya Allah trimakasih atas nikmat yang kau berikan pada kami.
sayang...kita dapat rezeki.Iini minumlah"kata si ibu sambil menyodorkan botol minuman pada putranya.
"Alhamdulillah.."jawab si anak lirih.
"Oia isinya apa saja sih bu?"tanyanya penasaran.
"Ini ada minuman,makanan sama....."
"Sama apa bu?"
"Uang"jawab ibu itu lirih
"Wah....banyak sekali uangnya?jadi hari ini kita makan ‘kan bu?"
si ibu mengangguk sambil memeluk anak semata wayangnya.
Dan tak henti-hentinya mengucapkan hamdalah dengan lelhan air mata yang mengucur deras di pipinya yang sudah keriput.
Dari kejauhan ada sepasang mata yang menangis haru melihat itu semua....
Kemudian pergi setelah si ibu dan putranya beranjak dari tempatnya duduk tadi

                                                                      ****

Sabtu, 25 Desember 2010

A & B

Dina menarik tanganku ke taman setelah pulang sekolah. Aku kepayahan mengikuti langkahnya yang tergesa-gesa.
"Aduh Ain,ada apa sih?"protesku sambil memasukkan buku-buku yang belum sempat aku rapikan ke dalam tas usai pelajaran matematika tadi.
"Pokoknya kamu harus nemenin aku sekarang!"ucapnya tegas.
"Lha mangnya ada apa?"
"Rapat kecil-kecilan tapi ini momen yang sangat luar biasa!!!"jawabnya bangga.
Aku mengerutkan dahi tanda bingung. Tapi aku tak banyak tanya takutnya temanku yang manis ini berubah jadi pahit karna aku banyak protes.
Ku daratkan tubuhku ke bangku taman yang letaknya tepat di bawah pohon.
Ah...segarnya . Semilir angin yang menerpa wajahku serta mempermainkan rambut sebahuku ini dapat memunculkan semangatku yang nyaris hilang karena pelajaran matematika yang membosankan itu.
Pertama kali melihat jadwal sekolah hari ini aku hampir saja kena serangan jantung (untungnya dalam keluargaku tidak ada riwayat mengidap penyakit mengerikan itu).
Bayangkan saja ada mata pelajaran  matematika di akhir jadwal.
Kalian (para musuh bebuyutan mapel ini)bisa membayangkan bukan,bagaimana rasanya jika ada yang menuntut otak kalian bekerja keras dan kalian di tuntut kerja rodi semacam itu dalam keadaan yang sangat tidak mendukung alias puanaaaas minta ampun. Apa kalian sanggup? Jujur aku sama sekali nggak sanggup!
"Mau minum?"Dina menyodorkan sebotol kecil air mineral padaku.
Aku pun langsung menyambarnya. dina sampai melongo melihat tingkahku.
"Eh ngomong-ngomong yang kita tunggu tuh siapa sih?"tanyaku
"Udahlah,sabar aja. Paling juga gak lama lagi kok dia nonggol"
"Siapa sih?Gebetan baru kamu?"
Dina bukannya menjawab malahan tertawa terbahak-bahak,kini giliran aku yang mengerutkan dahiku sambil menegak lagi air mineral yang tinggal separuh itu.
"Bukan,sayang. tapi kalo di jadiin gebetan juga cocok juga sih coz orangnya ideal bunaget. idaman wanita dah"
"Jiah!!!Bahasamu dah kayak tante-tante aja,din. hm....ketularan siapa kamu?"
Dina hanya nyengir kuda kemudian asyik dengan komik terbarunya tanpa menjawab pertanyaanku.
Dan itu membuatku sangat penasaran.
15 menit...
30 menit...
1 jam....
1.5 jam...
2 jam...
"Haduuuh,mana orangnya sih din?"tanyaku mulai protes "Dah kering ni nungguinnya. Dikira gak ada kerjaan lain apa ya?!!!!"
"Sabar dunk say"kata Dina santai tanpa melepas pandangannya dari komiknya
"Sabar?!Kamu dah gila ya?Nunggu 2 jam masih aja di suruh sabar!!Emangnya siapa sih dia?Segitu pentingnya kah sampe-sampe kita harus rela-rela jamuran nunggu tukang ngaret itu"ujarku kesal dengan volume suara yang agak tinggi.
Dina tak juga beranjak dari komiknya dan itu menambah aku semakin kesal dan marah.
"Sekarang kasih tau aku,siapa yang sebenernya kita tunggu?!"tanyaku sambil menyambar komik dari tangan dina
"Aduh Belva,lagi seru nih"kata Dina berusaha mengambil bukunya dariku.
"Kasih tau dulu siapa yang kita tunggu trus dimana dia sekarang"
"Iya-iya...yang kita tunggu si Axelle dia mungkin lagi ada di kantor OSIS"jawab Dina tanpa banyak bicara lagi kau mngembalikan buku komiknya. kemudian aku segera melesat ke kantor OSIS yang tak jauh dari taman sekolah. Aku tak memperdulikan Dina yang masih saja asyik dengan komiknya.
Ya itulah salah satu perbedaan kami berdua, kami punya sifat yang jauh berbeda.
Dina cewek feminim,aku tdak.
Dina cewek penyabar,aku tidak.
Dina cewek yang lembut,aku tidak.
Dina cewek yang perasa,aku tidak.
Dina cewek yang agak rendah diri,aku tidak.
Dina cewek modis,aku tidak.
Hm...Yang sama antara aku dan dina itu....kami sama-sama suka berkhayal.
Oiya kembali ke Axelle.
Axelle adalah cowok yang termasuk populer di sekolah kami. Dia terkenal disiplin dan sangan cocok jadi pemimpin,dia juga bukan orang yang sombong,Pokoknya seperti kata dina tadi,Axelle adalah cowok idaman. Sayangnya yang paling aku benci dari dia adalah sifat cueknya yang terlalu berlebihan pada cewek.
Setiap dia berinteraksi dengan cewek, sangat terkesan bahwa Axelle sama sekali tak menganggap cewek Yang ada di hadapannya itu ada.
'tok,tok,tok'
Aku mengetuk daun pintu OSIS,tapi tak ada respon.
'tok,tok,tok'
Lagi-lagi tak mendapatkan respon.
'tok.tok,tok'
Kali ini aku mengetuk agak keras. Tapi tetap sama tak ada respon.
Aku memegang handle pintu berniat untuk membukanya.
Tapi...
'Klek'
Suara kunci pintu terbuka tapi dengan gerakan yang sangat cepat pintu itu terbuka...
'Duuuk!'
"Aw!!'pekikku
Aku terjatuh dengan kerasnya.
"Owh..Ada orang ya,Hm...kamu terlalu kecil jadi nggak keliatan deh"
Hah,apa dia bilang?!!!Sangat-sangat tidak sopan!!
"Iya sorry deh kingkong!"
Axelle berlalu begitu saja tanpa memperdulikan aku yang masih belum bangkit
 dari jatuhku.
"Hei...tanggung jawab dunk!!"triakku.
Axelle menghentikan langkahnya.
"What?!!!Tanggung jawab?!Sejak kapan aku niduri kamu?! Nyentuh aja nggak"jawabnya sekenanya saja kemudian dia melanjutkan langkahnya lagi tanpa kata 'maaf' yang keluar dari mulutnya untukku.
"Sialan!!!Dasar kampret!!! Awas kamu ya,suatu saat bakal aku buat nyesel kamu"kataku sambil berdiri.
Aduh,pinggang dan jidatku sakit sekali....
Ah ini semua gara-gara cowok kampret itu!!!


to be continue ^_^