need angel
Senin, 21 Mei 2012
A & B part 8
Malam harinya ketika aku sedang sibuk mengerjakan tugas Akuntansi, Dina datang kerumahku. Katanya ingin meminta tolong padaku untuk membuatkan puisi untuk tugas Bahasa Indonesia-nya.
Aku pun mengalah dan segera mengambil kertas untuk tempat jariku menari-nari menggoreskan kata demi kata untuk sahabatku tercinta ini. Ku lirik Dina yang sedang sibuk membolak-balik majalah yang katanya di belinya waktu pulang sekolah tadi. Tiba-tiba HP Dina berteriak melantunkan sebuah lagu Korea.
”Halo...hai sayang?” sapa Dina pada orang yang diseberang sana. Aku kembali mengalihkan perhatianku pada secarik kertas dihadapanku, tak ingin mencampuri urusan orang lain. 15 menit kemudian lahirlah satu karyaku, tapi Dina masih asyik dengan telponnya. Aku pun meneruskan PR yang belum selesai tadi. Konsentrasiku buyar karena mendengar Dina yang terus mesra-mesraan dengan seseorang diseberang sana yang aku tak tau siapa dia. Tapi aku terus mencoba mengembalikan konsentrasiku untuk 2 soal ini. Aku mengomel dalam hati, 2 soal ini sangat menguras energi berfikirku. Karna memang kelemahanku adalah pelajaran tentang hitungan. Rasanya aku ingin menyerah saja. Aku Sudah tak terdengar suara Dina yang ngobrol dengan telponnya. Dina yang melihatku kesusahan pun segera turun tangan untuk membantuku menyelesaikan tugasku. Dalam waktu 5 menit 2 soalku terjawab sudah. Dina beranjak dari duduknya dan berjalan menjauh dariku.
”Mau pulang?” tanyaku.
”Gak, aku pengen ke kamar mandi” jawabnya tanpa menoleh padaku. Aku melihat handphone Dina tergeletak atas kasurku. Aku segera mengambilnya dan melihat siapa yang menelponnya tadi. Di layar tertera nama Axelle. Kini terjawab sudah rasa penasaranku selama ini, sudah bisa dipastikan pacar barunya Dina adalah Axelle. Segera aku meletakkan handphone Dina kembali. Tak lama kemudian Dina keluar kamar mandi.
”Aku pulang ya, Va” katanya.
”Cepet banget?”
”Iya, mas pacar dah jemput soalnya, hihihi”
”Hm..pantesan. Jadi kamu kesini cuma buat nyuruh aku ngerjain tugas kamu??? Huh, dasar!”
”Eeh...jangan ngambek donk, kan tadi aku juga dah bantuin kamu ngerjain PR kamu” jawab Dina sambil memelukku dari belakang.
”Iya deh tapi aku jangan dicuekin mulu donk”
”Iya, maaf ya aku jadi sibuk banget, janji deh besok seharian kita bareng lagi”
”Bener?!”
”Hu’um”
Aku pun tersenyum melepas kepulangannya bahkan aku mengantarkan Dina sampai di depan gerbang. Ternyata sudah ada sebuah Ducati 999 warna merah dengan pengendaranya yang berjaket kulit senada dengan warna motornya. Meskipun dia tidak membuka kaca helmnya aku bisa mengenali siapa pengemudi itu. Siapa lagi kalo bukan Axelle sang pemilik motor tersebut. Ya, Axelle memang sering membawa motor sport itu ke sekolah. Aku segera masuk ke dalam rumah setelah Dina dan ’pacarnya’ menghilang dari pandanganku.
***
Besoknya di sekolah ternyata si Dina tidak menepati janjinya, aku kembali sendirian di kantin setelah Dina mendapat telpon dari sang pacar untuk rapat OSIS dadakan. Aku berhenti menghisap gelas berisi jus melon kesukaanku karna lagi-lagi ada yang menyita perhatianku. Tak jauh dari mejaku aku melihat Rasty bersama Axelle sedang bermesraan, bahkan saat Rasty menyuapkan potongan bakso, Axelle tak ragu menerimanya. Melihat itu aku reflek berdiri dan menghampiri meja mereka.
‘Braak!!’
Rasty dan Axelle terlonjak kaget dengan tindakanku barusan. Tanpa mengatakan apa-apa aku segera mengguyurkan segelas jus jeruk yang ada dihadapanku ke wajah Axelle. Sontak Axelle berdiri dan semua orang di kantin menoleh kearah kami. Aku tak peduli, amarahku mengalahkan rasa malu ku.
“Eh kamu apa-apaan sih?!” bentak Rasty yang ikut-ikutan berdiri dan sambil membantu Axelle membersihkan wajahnya dengan tissue.
“Diem kamu! Ini bukan urusan kamu!” bentakku
“Maksud kamu apa sih? Apa salahku sampe kamu lakuin ini ke aku?” Tanya Axelle padaku dengan nada tanpa marah.
“Hah, gak ngrasa ya apa salah kamu? Dasar cowok gak setia, dah punya pacar masih aja nyari cewek lain!!”
“Pacar?? Maksud kamu itu apa sih?” Tanya Axelle lagi dan semakin bingung.
“Pake tanya lagi!! Emang ya, kamu tuh gak ada bedanya sama cowok lain yang suka mainin perasaan cewek. Tolong donk kamu ngertiin perasaan si Dina, gimana kalo dia tau apa yang kamu lakuin sama Rasty disini”
Axelle tak menjawab cercaanku bahkan wajahnya semakin bingung dengan apa yang aku ucapkan.
“Gak usah sok polos deh, udah nembak Dina masih ja jalan ma Rasty!! Dasar player!! Lihat aja nanti aku bakal cerita semuanya ke Dina”
“Hah, nembak Dina? Kamu salah Belva, aku tuh gak jadian ma Dina, aku juga gak pernah nembak Dina”
“WHAATT????!!!”
‘PLAK!’
Reflek aku melayangkan tanganku ke pipi Axelle. Dan itu sukses membuat orang yang menonton kami semakin ternganga lebar. Tanpa berkata-kata lagi aku segera pergi dengan rasa sesak didada. Aku ingin menangis, tak kuasa aku jika harus menceritakan semua ini pada Dina, dia pasti akan sangat terpukul dengan semua ini. Aku merasa bersalah karna selama ini aku menyembunyikan rahasia Axelle. Tanpa bisa aku menahannya, air mataku meloncat jatuh ke pipiku.
Malam harinya aku segera mendatangi rumah Dina tanpa memberitaunya terlebih dahulu. Aku melajukan motor bebekku dengan kecepatan yang lumayan tinggi, aku tak ingin menunda-nunda lagi. Perjalanan 15 menit terasa berjam-jam untukku. Sampai di depan pagar rumah Dina, aku segera masuk tanpa memasukkan motorku ke garasi seperti biasanya, di halaman rumah Dina telah bertengger sebuah Ducati Streetfighter merah.
“Hai Din” sapaku melihat Dina bersama dengan seseorang di ruang tamu.
“Eh belva, tumben main gak bilang-bilang dulu. Ada apa?” kata Dina. Aku masuk dan duduk disebelahnya.
“Lho, kak Andy?? Ngapain disini?” Tanyaku terkejut melihat Andy, sepupu Axelle, ada dirumah Dina.
“Iya, nih lagi bantuin si Dina ngerjain PR kimia”
Tak heran jika Dina meminta Andy untuk mengajarinya tentang kimia, karena memang Andy pernah memenangkan olimpiade kimia tapi aku tak tau tingkat apa,hehehe aku memang tak pernah peduli dengan urusan orang lain.
“Oh…eh Din, ada yang mau aku omongin nih” kataku.
“Oiya??? Tentang apa? Eh sebelumnya mumpung kamu disini sekalian aku kasih tau kalo pacarku…”
“Aku dah tau, aku kesini juga mau bicarain masalah pacar kamu yang kurang ajar itu” potongku.
“Hah??? Maksudnya?”
Sebelum menjawab aku segera menarik tangan Dina agar menjauh dari Andy, aku membawanya masuk ke dalam kamarnya yang sudah aku anggap rumahku sendiri. Aku segera menceritakan tentang perbuatan Axellle yang aku tau selama ini, aku juga memelas meminta maaf karna aku tak pernah bisa menyampaikan hal itu padanya. Dina hanya bengong melihat penjelasanku.
Aku tau mungkin itu membuatnya syok, tak akan menyangka jika kekasih yang selama ini dia banggakan kini justru menghianatinya.
tobe continue
Minggu, 22 April 2012
A & B part 7
”Aku jadian!”serunya disusul dengan tawa renyahnya, justru aku yang terdiam mendengar kabar tersebut, aku marah bahkan ingin aku katakan semuanya tentang Axelle tadi sore. Tapi, aku tak tega jika harus menghancurkan kebahagiaan temanku ini, apa lagi baru kali ini si Dina pacaran. Aku bingung harus mengucapkan kata selamat ataukah justru malah menyuruhnya untuk segera memutuskan Axelle.
”Va, kamu dengar kan?” tanya Dina yang rupanya menyadari ketidakbahagiaanku dengan berita tersebut.
”Oh iya Din, aku denger kok. Aku kaget aja denger berita itu. Oiya,selamat ya”
”Iya, makasih ya Va. Besok aku traktir deh di kantin. Ok,ok,ok?”
”Oke Dina”
Tak lama kemudian Dina menutup telponnya. Aku masih termenung duduk di tepi kasurku. Aku tak habis pikir dengan si Axelle yang tega sekali melakukan hal itu pada Dina, sahabatku. Bahkan tadi Dina bilang kedua orang tuanya ada saat Dina di ’tembak’. Aduuh, dimana sih hati nurani si Axelle itu??? Dasar cowok tak tau malu, bayangkan saja baru tadi sore dia mesra-mesraan dengan Rasty tapi malam harinya dia malah nembak Dina. Atau mungkin si Axelle baru sadar kalo tindakannya yang tadi sore itu salah, terus dia akhirnya memutuskan bahwa cewek terbaik buatnya adalah si Dina, begitu? Hm...ya, mungkin memang begitu. Ya sudahlah, lagian si Dina sangat bahagia rasanya, tak pantas jika sahabatku yang sengaja berbagi kebahagiaan denganku tapi justru aku tak ikut bahagia.
Aku bangun dari dudukku dan segera mematikan laptopku, aku harus segera tidur supaya besok tidak bangun kesiangan.
Besok harinya aku berangkat sekolah diantar oleh papaku, katanya ada urusan penting yang kebetulan searah dengan sekolahku. Aku sih ikut saja toh tidak setiap hari aku diantar papaku tersayang,hehehehe. Sampai sekolah si Dina sudah menungguku di depan kelasku.
”Pagi Belva”
”Pagi Din”
”Ayok ke kantin sekarang , aku pengen traktir kamu”
”Hah, masa pagi-pagi gini kamu ngajak ke kantin? Aku tadi udah sarapan dirumah, gak kuat kalo diisi lagi”
”Aduh kalo ntar aku gak bisa, nanti istirahat aku ada rapat OSIS”
”Hm...rapat kok terus sih? Mau rapat apa mau pacaran?”
”Hehehe, sambil menyelam minum airlah, Va. Ngirit waktu gitu lho. Ayo kamu mau gak aku traktir??”
”Ogah ah, aku gak pengen di traktir tapi orang yang traktir aku gak tenang gara-gara sibuk!” kataku ketus.
”Yaaaaah, kok ngambek sih?”
”Kalo gitu kamu traktir aku kapan-kapan aja, cari waktu yang pas”
”Iya,iya. Maaf ya sayang” kata Dina sambil memelukku erat. Aku tak tega juga melihat wajahnya yang terlihat bersalah. Memang sejak dirinya aktif di OSIS seakan-akan Dina tak punya waktu lagi untukku kecuali hari minggu itu juga sangat jarang. Aku sebagai sahabatnya kadang merasa sedih jika Dina tak seperti dulu yang slalu ada untukku. Ah ya sudahlah, yang penting Dina masih ingat sama aku meski pun tidak seperti dulu. Setelah itu, Dina pergi kekelasnya. Maklum Dina anak IPA sedangkan aku anak IPS, jadi kami berdua tidak satu kelas.
Hari ini rasanya mood ku sedang tak baik, seakan-akan susah sekali untuk tersenyum. Sampai-sampai pak Naga guru Sejarahku tak berani bertanya atau menyuruhku untuk maju ke depan untuk mengerjakan soal yang dibuatnya. Bagi ku hari ini waktu berjalan sangat lambat bahkan lebih lambat dari jalannya siput mungkin jika bisa di adu akan lebih cepat si siput.
”Kamu kenapa, Va?” tanya Rina teman sebangkuku. Aku hanya menggeleng dan sedikit tersenyum. Rina pun ikut tersenyum dia tau itu berarti aku sedang tak ingin di ganggu.
Lagi-lagi aku pulang sekolah seorang diri tanpa Dina yang biasa menemaniku menunggu jemputan. Aku duduk di bawah pohon dekat dengan gerbang sekolah, sebuah jazz silver melintas di depanku dan berhenti. Perlahan kaca jendela tersebut turun. Muncul Dina dengan senyum manisnya.
”Belva...pulang bareng kita aja yuk” ajaknya
”Iya dari pada nungguin jemputan yang gak dateng-dateng” sahut Andy yang duduk dibelakang stir mobil.
Aku melihat masih ada tempat duduk di jok belakang, di sebelah Axelle yang sedang asyik dengan handphone miliknya. Tapi aku menggeleng menjawab ajakan Dina dan Andy tersebut, lagian aku males kalo harus duduk sebelahan dengan si cowok nyebelin itu. Akhirnya mobill tersebut melaju meninggalkanku setelah aku yakin tak ingin pulang bersama mereka.
10 menit setelah kepergian Dina, supir keluargaku pun datang. Aku segera pulang kerumah dan merebahkan tubuhku menghilangkan lelah yang sedari tadi menghinggapiku.
#to be continue
A & B PART 6
Keesokan harinya Dina datang ke kelasku sambil ngomel-ngomel karna kemarin aku tinggal tanpa memberinya kabar, aku hanya bisa nyengir kuda karna kemarin setelah pulang aku langsung tertidur pulas sehingga lupa menelponnya seperti rencanaku sebelumnya.
”Sorry ya Din,kemarin mama telpon minta aku cepet-cepet pulang katanya sih penting banget gitu gak taunya Cuma disuruh nyariin buku yang kemarin aku beliin buat mama” jelasku bohong.
”Oh...gitu ya kirain kamu marah ma aku. Untugnya kemarin ada si Axelle jadi aku di anterin dia pulang. Eh aku juga dah ngasihin jam yang aku beli kemarin lho.”
”Oya?? Terus dia gimana?? Pastinya suka donk?”kataku pura-pura terkejut.
”Oh jelas donk, dia suka banget malahan dia juga ngasih aku ini” jawab Dina sambil memperlihatkan gelang warna ungu yang melingkar cantik dipergalangan tangannya.
”Wah dia tau warna kesukaan kamu juga ya?? Ih...so sweet bangeeeet. Jadi pengen,hehehehe”
”Iya aku juga gak nyangka kalo dia ngerti warna kesukaanku. Kemarin aku sebenernya juga pengen ngenalin dia ke kamu tapi nggak jadi habisnya kamu keburu pulang sih”
”Emang siapa sih dia? Namanya siapa?”
”Namanya? Hm...janganlah ntar kalian kenalan sendiri aja deh. Kan gak seru kalo aku bilang sekarang”
”Halah... inisialnya aja deh. Pleaseeeeee!!”
”Ya udah deh... inisialnya A”
Tu kan... Dina bilang inisial gebetannya itu namanya A. A untuk Axelle. Astaga!!! Ternyata beneran, haduh bisa gawat kalo si nenek sihir Rasty itu bisa tau tentang hubungan Dina sama Axelle, apalagi waktu di perpustakaan dulu aku bilang ma si Rasty kalo mereka gak ada hubungan sama sekali.
”Va..kok diem?”
”Eh...e...wah..bagus donk”
”Bagus? Apanya yang bagus?”
”Eh...maksudku bagus kalo kalian bisa jadian”
”Oh...iya moga aja deh ya” kata Dina sambil cengar-cengir.
Untung bel masuk segera terdengar sehingga bisa menyelamatkan aku dari ceracauan Dina tentang si Axelle itu. Tapi sebelum pergi ke kelasnya, Dina mengatakan kalo dia tak bisa menemaniku pulang alasannya karna mau di antar oleh si ’calon pacar”. Meskipun sangat terpaksa aku hanya mengangguk dengan senyuman sangat-sangat ngirit. Kesal juga rasanya sejak dia sibuk PDKT sama si Axelle, si Dina yang dulunya slalu ada untukku sekarang jauuuuh berbeda, dikit-dikit OSIS katanya penting gak taunya Cuma pengen deket sama si Axelle,sang sekertaris OSIS yang terkenalnya ngalahin ketua OSIS, gak kayak di sekolah lainnya kan biasanya yang terkenal itu ketua OSIS.
Dari dulu aku slalu heran apa sih sebenarnya hebatnya si Axelle itu?? Kalo di lihat dari fisiknya menurutku sama sekali gak ada keren-kerenya karena Axelle itu tipe cowok yang punya badan kurus dan tinggi jadi mirip-mirip genter gitu, trus kalo dilihat dari wajahnya menurutku si Axelle itu tipe cowok yang punya wajah biasa aja bahkan jauh dari kata GANTENG, terus kalo dilihat dari prestasi belajarnya menurut aku kayaknya gak ada spesialnya juga yaa sedang-sedang sajalah, kalo dilihat dari sifatnya menurut aku dia itu dingin banget mungkin ngalahin es yang ada di freezer kulkas dirumahku soalnya aku belum pernah ngerasain dinginnya salju,hehehehe.
”BELVAA!!!”
”Eh iya pak?”aku reflek berdiri dari kursiku
”Jika anda hanya ingin berkhayal jangan dikelas saya, silakan anda keluar”kata pak Adit dengan tegas,guru Bahasa Indonesiaku itu memang sangat keras dalam mendidik muridnya, saat sedang ada kelas beliau sangat tak suka jika ada yang mengganggunnya sebentar saja bahkan sulit untuk tersenyum jika sedang mengajar.
”Saya tidak berkhayal pak, dan masih pengen ikut pelajaran bapak”
”Kalau begitu perhatikan saya”
”Iya pak”
Haduh,untung mood beliau sedang bagus jika tidak,mungkin pak Aditlah yang sudah keluar dari kelas sejak tadi.
****
Hari ini lagi-lagi aku pulang sendirian karna si Dina sudah pulang sajak tadi, aku pulang agak sorean karna mengikuti les bahasa inggris. Tiba-tiba langkahku terhenti ketika melihat pemandangan didepan mataku.
”Ngapain dia ma rasty?”tanyaku heran, karna penasaran aku semakin memperhatikan Axelle dan Rasty dari dalam kelas. Mereka berdua terlihat sangat akrab bahkan si Rasty asyik menggelayut manja dilengan Axelle, parahnya lagi si Axelle terlihat sangat menikmati tindakan Rasty tersebut. Melihat itu rasanya hatiku terbakar, bukan karna cemburu tapi karna hatiku sakit melihat orang yang dicintai sahabatku itu rela menyakitinya di belakangnya.
Segera kuambil handphoneku dan mengetik pesan singkat untuk Dina, menanyakan keberadaannya sekarang. Dan tak lama kemudian Dina membalas pesanku dan mengatakan jika Dina sudah ada dirumah sejak jam 3 tadi.
”Ah kurang ajar! Dasar cowok!!!!” umpatku. Aku pun segera pulang sebelum mamaku ngomel-ngomel karna aku tak kunjung pulang.
Malam harinya saat aku sedang asyik main game di laptop kesayanganku, HP ku berdering tanda ada telpon yang masuk, segera aku klik tanda ’pause’ pada layar laptop lalu mengangkat telpon yang ternyata dari Dina. Nada bicaranya sangat ceria, aku pun segera tau bahwa ada kabar bahagia yag pastinya ingin dia bagi denganku.
# tobe continue
Sabtu, 14 April 2012
A & B part 5
Episode 5
Aku masih saja manyun karan ulah Dina tadi.
”Kita mau kemana sih?? Kayaknya dari tadi Cuma muter-muter tempat yang sama deh” protesku.
”Eh bawel!! Diem ja napa, aku lagi mau nyari kado nih buat someone”
”Buat sapa mangnya? Tante mia? Kayaknya ultahnya masih lama deh. Trus sapa dunk? Oh...om Edi ya? Eh tapi kan om Edi ultahnya dah lewat. Trus kamu beli kado buat sapa donk Din? Kan kamu gak punya kakak atau adik apalagi pacar!!! Hayo kamu mau ngasih kado ke sapa???”
”Iiiih dasar beo!!! Bawel banget sih kamu, aku beli kado bukan buat keluargaku juga bukan buat pacarku...”
”Terus?”
”Gebetanku,hehehehehe”
”Hm...kok kamu gak pernah bilang?!!!”kataku sambil menarik tubuhnya menghadapku tak lupa tatapan introgasiku.
”Hehehehehe,ntar juga tau kok”jawab Dina sambil berlalu, dan aku pun semakin manyun di buatnya.
”Eh,menurut kamu kalo sepatu gimana?” tanya Dina padaku. Aku menggeleng. ”Kalo buku tulis?”
”Hah?!! Buku tulis?Emangnya gebetan kamu itu anak TK?”
Dina manyun dan berlalu dariku menuju rak bagian boneka dan buku-buku. Aku kembali asyik dengan game dihp-ku. Lagi asyik-asyiknya main game,Dina kembali menggangguku dengan mencolek pipi cubby-ku.
”Haduh!!!! Apaan sih?!”saat aku menoleh aku melihat boneka dolpin dengan ukuran yang lumayan besar hingga yang membawanya pun tak bisa aku lihat. Aku terdia untuk sesaat menunggu pembawa boneka itu menunjukkan batang hidungnya. Tapi,parahnya hati kecilku berbisik usil hingga membuatku tersenyum’wah jangan-jangan cowok ganteng yang diem-diem naksir berat ma aku...’ belum slesai bergumam tiba-tiba seraut wajah manis muncul dari balik dolpin tersebut dan dia berkata
”Kalo yang ini bagus ya,Va?”tanyanya lembut.
”Yaaah...kirain penggemar rahasiaku yang mau nyatain cinta ke aku”celetukku kecewa. Dina malah tertawa mendengar ucapanku barusan.
”Mana ada yang mau ma kamu,Va? Profesi kamu ja blm ganti kok”ejek Dina.
Aku mencibir sambil mencubit lengannya. ”Eh gebetan kamu itu sebenernya cewek pa cowok sih??Atau jangan-jangan laki-laki setengah dewi?”
”Enak ja...mana doyan aku ma yang blasteran gak jelas gitu??”
”Yaaaah, kirain kamu doyan ma yang punya 2 dunia gitu,hahahaha”
”Aaaah dikira kodok yang bisa hidup didua dunia?? Udah ah,yang mana ni jadinya?”
”Mang mau dikasih kapan?”
”Kalo bisa sih sekarang,Va. Dia ngajak ketemuannya sekarang kok.”
”Hm....ya udah kasih aja jam tangan aja gimana?”
Dina berpikir sejenak,lalu tersenyum senang sambil mengangguk semangat. Ditariknya tanganku untuk mendekati meja bagian jam yang tak jauh dari kasir. Akhirnya Dina menemukan sebuah jam tangan yang katanya cocok untuk sang gebetan itu setelah memilih dalam waktu setengah jam. Sebuah jam tangan terbuat dari karet berwarna hijau muda. Cool.
Setelah itu kami pun segera mencari tempat untuk memberi makan cacing-cacing didalam perut kami yang dari tadi sudah pada demo itu.
Hm...sepiring burger dengan kentang goreng dan segelas pepsi sudah siap didepan mata kami,rasanya mereka begitu menggoda bagi kami dan tanpa menunggu lama lagi isi piring tersebut sudah pindah di tangan kami...nyam-nyam hehehehe. Tak lama setelah makan, aku tiba-tiba merasa ingin buang air kecil jadi aku pun meninggalkan Dina sendirian. Ternyata di kamar kecil ngantri banyaaaak banget dan dengan terpaksa aku pun menunggu.
Kurang lebih 10 menitan kemudian aku pun segera menghampiri sobat baikku yang mungkin sudah memasang wajah berlipat-lipat itu. Langkahku terhenti melihat si Dina sedang asyik bicara dengan Axelle dan yang semkin membuatku terheran-heran adalah di tangan Axelle ada jam tangan yang baru dibeli Dina tadi. Mereka terlihat sangat akrab, aku pun semakin curiga dengan pemandangan didepanku.
”Astaga, jangan-jangan gebetan Dina itu si Axelle!!!” tebakku. Aku pun memutuskan untuk segera pulang dari pada aku mengganggu mereka berdua, setelah sampai rumah aku akan menelpon Dina saja.
#to be continue
Senin, 07 Maret 2011
A & B PART 4
"BELVAAAAAAA"
Belva membuka matanya perlahan.
Suara mama tercintanya itu membuyarkan mimpi indahnya barusan. Diliriknya jam dinding yang menempel manis di kamarnya itu.
Pukul 07.30
Belva kembali menarik selimut tebalnya dan memejamkan mata lagi.
Toh udara di luar masih dingin,mungkin karna semalam hujan deras.
'tok,tok,tok'
"Belvaaaa!!!"
"Astaga!!!!
Baru juga mau merem udah da yang ganggu lagi.
Perasaan ini hari minggu deh kenapa banyak bgt sih yang ganggu,pada gak punya kerjaan apa ya?"runtuknya dalam hati sambil bangkit dari ranjang untuk membuka pintu.
"Belva!!" Dina langsung memeluknya erat. Belva hanya diam saja.
"Kamu tau gak sih?"
"Gak"jawabnya singkat sambil melengkah menuju ranjang dan berniat untuk tidur lagi.
Tapi ternyata Dina lebih dulu merebut impian Bbelva, ia melompat dan tidur lerlentang,praktis sudah tak ada tempat untuknya. Belva menghela nafas panjang tanda kecewa.
"Kamu ngapain sih pagi2 gini dah gangguin orang?"omelnya sambil duduk di samping ranjang lalu meletakkan kepalanya di tepi ranjang.
"Aku mau ngajak kamu ke toko buku,semalem si Axelle ngasih tau kalo ada buku baru"
"Ntar ja ke toko bukunya ya,jam 3 gitu kek"
"Hah?!!Enak ja !! Aku gak mau lagi kehabisan buku itu,sayang. Katanya si Axelle sih buku itu bagus, semalam dia telpon aku buat critain isi buku itu. Aduuh aku jadi makin penasaran bgt,tau!! Eh ntar habis nyari buku kita mampir ke Matahari bentar ya aku pengen beli baju ma rok baru,ok?"kata Dina panjang lebar, tapi Belva tak menyahut.
"Bel??"panggil Dina. Sama saja Belva tetep terdiam.
Dina menengok temannya.
"Ya Allah, Belva!!!. kirain kamu diem gara-gara dengerin curhatanku eh gak taunya kamu malah khusyuk tidur,dasar!! bangun gak,kamu!!"Dina turun ranjang
"belvaaaaaa!!!!!!!"dina menggoyang-goyang tubuh belvahingga tubuh sahabatnya itu terguncang hebat. Belva membuka matanya perlahan.
"Apaan sih aku ngantuk bgt ni,Din?!"
Dina jadi geram melihat sohibnya yang satu ini. Akhirnya Dina menarik tangan Belva agar berdiri lalu mendorongnya masuk kamar mandi yang ada di sebelah kamar Belva.
Sampai di kamar mandi Dina menganmbil sedikit air dengan tangannya lalu memercikkan air itu pada wajah Belva, sontak Belva membuka matanya lebar-lebar merasakan air yang dingin itu di wajahnya.
"Hahahahha,rasain lu!"seru Dina kemudian kabur sebelum Belva menyerangnya.
"Dinaaaaaaaaa"triak Belva histeris.
Meski begitu Belva akhirnya pun terpaksa menayambar handuk yang ada di jemuran atas.
Tak lama kemudian Belva dan Dina sudah siap untuk pergi sesuai yang mereka rencanakan (tepatnya Dina yang merencanakan).
***
kedua gadis SMA itu berjalan menuju toko buku yang jaraknya agak jauh dari rumah Belva
Belva membuka matanya perlahan.
Suara mama tercintanya itu membuyarkan mimpi indahnya barusan. Diliriknya jam dinding yang menempel manis di kamarnya itu.
Pukul 07.30
Belva kembali menarik selimut tebalnya dan memejamkan mata lagi.
Toh udara di luar masih dingin,mungkin karna semalam hujan deras.
'tok,tok,tok'
"Belvaaaa!!!"
"Astaga!!!!
Baru juga mau merem udah da yang ganggu lagi.
Perasaan ini hari minggu deh kenapa banyak bgt sih yang ganggu,pada gak punya kerjaan apa ya?"runtuknya dalam hati sambil bangkit dari ranjang untuk membuka pintu.
"Belva!!" Dina langsung memeluknya erat. Belva hanya diam saja.
"Kamu tau gak sih?"
"Gak"jawabnya singkat sambil melengkah menuju ranjang dan berniat untuk tidur lagi.
Tapi ternyata Dina lebih dulu merebut impian Bbelva, ia melompat dan tidur lerlentang,praktis sudah tak ada tempat untuknya. Belva menghela nafas panjang tanda kecewa.
"Kamu ngapain sih pagi2 gini dah gangguin orang?"omelnya sambil duduk di samping ranjang lalu meletakkan kepalanya di tepi ranjang.
"Aku mau ngajak kamu ke toko buku,semalem si Axelle ngasih tau kalo ada buku baru"
"Ntar ja ke toko bukunya ya,jam 3 gitu kek"
"Hah?!!Enak ja !! Aku gak mau lagi kehabisan buku itu,sayang. Katanya si Axelle sih buku itu bagus, semalam dia telpon aku buat critain isi buku itu. Aduuh aku jadi makin penasaran bgt,tau!! Eh ntar habis nyari buku kita mampir ke Matahari bentar ya aku pengen beli baju ma rok baru,ok?"kata Dina panjang lebar, tapi Belva tak menyahut.
"Bel??"panggil Dina. Sama saja Belva tetep terdiam.
Dina menengok temannya.
"Ya Allah, Belva!!!. kirain kamu diem gara-gara dengerin curhatanku eh gak taunya kamu malah khusyuk tidur,dasar!! bangun gak,kamu!!"Dina turun ranjang
"belvaaaaaa!!!!!!!"dina menggoyang-goyang tubuh belvahingga tubuh sahabatnya itu terguncang hebat. Belva membuka matanya perlahan.
"Apaan sih aku ngantuk bgt ni,Din?!"
Dina jadi geram melihat sohibnya yang satu ini. Akhirnya Dina menarik tangan Belva agar berdiri lalu mendorongnya masuk kamar mandi yang ada di sebelah kamar Belva.
Sampai di kamar mandi Dina menganmbil sedikit air dengan tangannya lalu memercikkan air itu pada wajah Belva, sontak Belva membuka matanya lebar-lebar merasakan air yang dingin itu di wajahnya.
"Hahahahha,rasain lu!"seru Dina kemudian kabur sebelum Belva menyerangnya.
"Dinaaaaaaaaa"triak Belva histeris.
Meski begitu Belva akhirnya pun terpaksa menayambar handuk yang ada di jemuran atas.
Tak lama kemudian Belva dan Dina sudah siap untuk pergi sesuai yang mereka rencanakan (tepatnya Dina yang merencanakan).
***
kedua gadis SMA itu berjalan menuju toko buku yang jaraknya agak jauh dari rumah Belva
Rabu, 29 Desember 2010
A & B part 3
siang ini Aku sibuk dengan tugas yang di berikan guru bahasa Indonesia. Tak jauh dariku ku lihat si Dina yang juga sedang sibuk membolak-balik buku yang ada di rak perpustakaan sekolah.
Tugas kali ini yang di berikan adalah tugas meresume sebuah novel tapi tugas itu harus di kumpulkan hari ini juga. Akhirnya
perpustakaan yang biasanya sepi ini mendadak ramai karena di padati para siswa yang ingin mencari referensi untuk resumenya..
“Belva”seorang gadis cantik menghampiriku dengan sebuah buku yang ada di tangannya. Wajahnya yang ayu terlihat murung.
“Ada apa, Resty?”
“Aku di ajarin dunk”
Aku hanya mengangguk sambil tersenyum. Resty adalah primadona di angkatanku. Selain Wajah orientalnya yang menarik, Resty bukanlah pribadi yang sombong. Dia tetap bergaul dengan smua kalangan di sekolah meski dia juga seorang model. Hal ini yang membuatnya semakin terkenal dan di sukai banyak orang.
Resty juga sering meminta bantuanku dan Dina jika ada materi yang tak di pahaminya. Karena Resty jarang masuk sekolah dengan padatnya jadwal pemotretan yang menyita waktu sekolahnya. Aku dan Dina pernah memberikan masukan untuk lebih mementingkan pendidikannya dari pada kariernya. Tapi Resty bilang bahwa mamanya pun tak keberatan jika ia malah justru menomorduakan pendidikannya.
Akhirnya aku dan Dina hanya bisa pasrah dengan jawaban Resty itu.
Ketika sedang asyiknya menerangkan materi pada Resty, tiba-tiba handphone Dina yang ada di sebelahku bergetar panjang, tanda ada telpon masuk.
Aku melemparkan pandangan pada Dina yang masih asyik membolak-balik lembar demi lembar buku yang di pegangnya. Kemudian aku pun berniat menjawab panggilan itu. Ada nama Axelle yang tertera di layer HP Dina.
“Halo”kataku ” Dina lagi bikin tugas,ni aku temennya. Ada perlu apa ya?Oh gitu?Ya nanti aku sampaikan. Iya sama-sama”
‘klik’
Sambungan telekomunikasi pun terputus.
Aku melanjutkan menerangkan penjelasanku pada Resty yang tadi sempat terputus. Tak lama kemudian Dina berjalan menuju meja kami.
Aku memberitaunya tentang apa yang di katakan Axelle di HP. Dina hanya mengangguk paham.
“Eh kalian kenal Axelle juga?Hm….aku naksir berat lho ma dia”celetuk Resty sambil sibuk menulis.
“Iya aku sering ma dia”jawab Dina. Resty hanya tersenyum kecut.
“Eh…habis ini ke kantin yuk,Din”ajakku segera sebelum Resty menanggapi kata-kata Dina. Karna sebenarnya walaupun Resty baik jiwa sombngnya sering muncul jika dia menginginkan sesuatu. Dan itu hanya aku yang tau karena Resty untuk hal ini sangat tertutup pada orang lain kecuali terpaksa. Pernah suatu ketika aku dan Resty sedang pergi ke sebuah toko buku untuk mencari buku novel sebagai kado ultah Dina. Kebetulan waktu itu Dina memang sedang mengincar sebuah buku dan sayangnya saat itu pula di tempat itu buku tersebut hanya tersisa satu. Akhirnya Resty harus berebut dengan pembeli lainnya yang kelihatannya anak kuliahan.
“Ini saya dulu yang pegang”kata anak kulihan itu
“Enak aja, gue dah liat ini duluan”bantah Resty smabil menarik buku novel tersebut. Hm…logat keartisannya mulai muncul.
“Res, udahan dunk. Malu ah”bisikku sambil memegangi tangannya.
“Nggak bisa, Belva!!!! Pokoknya ni buku harus jadi milik gue!!”
“Kan kita masih bisa nyari di tempat lain”bujukku lagi tapi Resty tak menghiraukan lagi kata-kataku.
Dengan sangat terpaksa aku meminta pemilik toko buku itu turun tangan.
“Saya yang beli buku ini, Pak”kata cewek itu.
“Kagak bisa!!Gue yang beli itu”kata Resty nyolot. “Gue berani bayar buku ini 10 kali lipat dari harga biasanya”
Aku dan semua orang yang mendengarnya sontak melotot tak percaya dengan omongan Resty. Termasuk si pemilik toko buku itu.
“Kenapa? Kagak percaya?”tanya Resty. Kemudian dia mengeluarkan dompet bermerk-nya dari dalam tasnya.
“Huh, banyak gaya!!”cibir anak kuliahan tersebut. “Mana mampu anak SMA kok brani bayar mahal?”lanjutnya. dan hal itu memacu amarah Resty.
Di keluarkannya isi dompet itu.
“Nih!!! Gue bayar!”kata Resty sambil mengeluarkan uang seratus ribua sebanyak lima lembar.”Kalo ada sisanya ambil aja”lanjut Resty lalu mengambil buku dari tangan anak kuliahan yang termangu tak percaya lalu menarik lenganku untuk pergi. Tapi tiba-tiba langkahnya terhenti.
“Oia…tenang aja itu uang halal kok. Gue kerja sendiri”katanya sambil melepas kacamata hitamnya.
Dan semua orang semakin terbengong-bengong melihat gadis yang membuat keributan itu adalah seorang model terkenal.
“Ya ampun, itu kan Karina Resty !!!”triak seseorang dengan histerisnya. Resty dan aku pun secepat mungkin berlari keluar dari toko itu sebelum di serbu oleh para penggemar Resty.
Resty menyenggol lenganku.
"Ya?"tanyaku sedikit kaget.
"Aku mau ngomong ma kamu"bisiknya smabil menarikku menjauh dari meja. Aku tersenyum pada Dina dan memberikan isyarat jika aku akan kembali sebentar lagi.
Dina hanya tersenyum manis.
“Ada apa sih?”tanyaku penasaran
“Kamu tau kan kalo apapun yang aku inginkan harus aku dapatkan”jawabnya santai. Aku mengangguk pelan. “Dan kamu tau juga kan kalo aku suka sama Axelle?”
“Terus?”
“Dan aku mau dia jadi milikku”
“Kenapa bilangnya ke aku? Siapa dia siapa aku?”tanyaku sewot.
“Ya kamu bilang aja ke Dina buat jauhin si Axelle”
“Hah, maksud kamu?”
“Kalo gak mau biar aku sendiri yang bilang ma Dina”
“Bentar-betar, pasti kamu ngiranya kalo si Dina pacaran ma Axelle?”
“Lho bukannya gitu ya?”
“Eh…nona Resty perlu kamu tau ya Dina dan Axelle itu Cuma sebatas teman aja gak lebih dari itu…”
“Tapi tadi…”
“Sssst, aku belum selesai!!! Mereka berdua deket karna mereka sama-sama aktivis sekolah, so jangan salah paham ya”jelasku lalu berlalu.
Aku mempercepat langkahku agar segera sampai di meja dimana Dina masih saja sibuk dengan bukunya.
“Ayo pergi”kataku sambil membereskan buku-bukuku.
“Lho mangnya napa sih?”tanya Dina bingung
“Udahlah…ntar aja jelasinnya.”
Dina mengikutiku.
Kami berdua berjalan ke kantin tapi tak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulut kami.
“Kamu kenapa?”tanya Dina lembut.
“Si Resty nyebelin banget tau gak!!”jawabku
“Iya kenapa?”
“Aku gak suka sama sifatnya yang sombong itu”
“Eh…Resty sombong? Jangan gitu dunk. Resty tu temen kita lho”
“Aku gak peduli,pokoknya aku gak suka sama cara dia bersikap untuk dapatin apa yang dia mau”
Dina terdiam saja.
“Jangan bilang kalo ini tentang si Axelle”kata Dina dengan raut muka serius
Aku mengangguk pelan.
Dina menepuk jidatnya keras.
“Mati aku!!!!!”serunya. Aku hanya mengerutkan dahi.
to be continue
Tugas kali ini yang di berikan adalah tugas meresume sebuah novel tapi tugas itu harus di kumpulkan hari ini juga. Akhirnya
perpustakaan yang biasanya sepi ini mendadak ramai karena di padati para siswa yang ingin mencari referensi untuk resumenya..
“Belva”seorang gadis cantik menghampiriku dengan sebuah buku yang ada di tangannya. Wajahnya yang ayu terlihat murung.
“Ada apa, Resty?”
“Aku di ajarin dunk”
Aku hanya mengangguk sambil tersenyum. Resty adalah primadona di angkatanku. Selain Wajah orientalnya yang menarik, Resty bukanlah pribadi yang sombong. Dia tetap bergaul dengan smua kalangan di sekolah meski dia juga seorang model. Hal ini yang membuatnya semakin terkenal dan di sukai banyak orang.
Resty juga sering meminta bantuanku dan Dina jika ada materi yang tak di pahaminya. Karena Resty jarang masuk sekolah dengan padatnya jadwal pemotretan yang menyita waktu sekolahnya. Aku dan Dina pernah memberikan masukan untuk lebih mementingkan pendidikannya dari pada kariernya. Tapi Resty bilang bahwa mamanya pun tak keberatan jika ia malah justru menomorduakan pendidikannya.
Akhirnya aku dan Dina hanya bisa pasrah dengan jawaban Resty itu.
Ketika sedang asyiknya menerangkan materi pada Resty, tiba-tiba handphone Dina yang ada di sebelahku bergetar panjang, tanda ada telpon masuk.
Aku melemparkan pandangan pada Dina yang masih asyik membolak-balik lembar demi lembar buku yang di pegangnya. Kemudian aku pun berniat menjawab panggilan itu. Ada nama Axelle yang tertera di layer HP Dina.
“Halo”kataku ” Dina lagi bikin tugas,ni aku temennya. Ada perlu apa ya?Oh gitu?Ya nanti aku sampaikan. Iya sama-sama”
‘klik’
Sambungan telekomunikasi pun terputus.
Aku melanjutkan menerangkan penjelasanku pada Resty yang tadi sempat terputus. Tak lama kemudian Dina berjalan menuju meja kami.
Aku memberitaunya tentang apa yang di katakan Axelle di HP. Dina hanya mengangguk paham.
“Eh kalian kenal Axelle juga?Hm….aku naksir berat lho ma dia”celetuk Resty sambil sibuk menulis.
“Iya aku sering ma dia”jawab Dina. Resty hanya tersenyum kecut.
“Eh…habis ini ke kantin yuk,Din”ajakku segera sebelum Resty menanggapi kata-kata Dina. Karna sebenarnya walaupun Resty baik jiwa sombngnya sering muncul jika dia menginginkan sesuatu. Dan itu hanya aku yang tau karena Resty untuk hal ini sangat tertutup pada orang lain kecuali terpaksa. Pernah suatu ketika aku dan Resty sedang pergi ke sebuah toko buku untuk mencari buku novel sebagai kado ultah Dina. Kebetulan waktu itu Dina memang sedang mengincar sebuah buku dan sayangnya saat itu pula di tempat itu buku tersebut hanya tersisa satu. Akhirnya Resty harus berebut dengan pembeli lainnya yang kelihatannya anak kuliahan.
“Ini saya dulu yang pegang”kata anak kulihan itu
“Enak aja, gue dah liat ini duluan”bantah Resty smabil menarik buku novel tersebut. Hm…logat keartisannya mulai muncul.
“Res, udahan dunk. Malu ah”bisikku sambil memegangi tangannya.
“Nggak bisa, Belva!!!! Pokoknya ni buku harus jadi milik gue!!”
“Kan kita masih bisa nyari di tempat lain”bujukku lagi tapi Resty tak menghiraukan lagi kata-kataku.
Dengan sangat terpaksa aku meminta pemilik toko buku itu turun tangan.
“Saya yang beli buku ini, Pak”kata cewek itu.
“Kagak bisa!!Gue yang beli itu”kata Resty nyolot. “Gue berani bayar buku ini 10 kali lipat dari harga biasanya”
Aku dan semua orang yang mendengarnya sontak melotot tak percaya dengan omongan Resty. Termasuk si pemilik toko buku itu.
“Kenapa? Kagak percaya?”tanya Resty. Kemudian dia mengeluarkan dompet bermerk-nya dari dalam tasnya.
“Huh, banyak gaya!!”cibir anak kuliahan tersebut. “Mana mampu anak SMA kok brani bayar mahal?”lanjutnya. dan hal itu memacu amarah Resty.
Di keluarkannya isi dompet itu.
“Nih!!! Gue bayar!”kata Resty sambil mengeluarkan uang seratus ribua sebanyak lima lembar.”Kalo ada sisanya ambil aja”lanjut Resty lalu mengambil buku dari tangan anak kuliahan yang termangu tak percaya lalu menarik lenganku untuk pergi. Tapi tiba-tiba langkahnya terhenti.
“Oia…tenang aja itu uang halal kok. Gue kerja sendiri”katanya sambil melepas kacamata hitamnya.
Dan semua orang semakin terbengong-bengong melihat gadis yang membuat keributan itu adalah seorang model terkenal.
“Ya ampun, itu kan Karina Resty !!!”triak seseorang dengan histerisnya. Resty dan aku pun secepat mungkin berlari keluar dari toko itu sebelum di serbu oleh para penggemar Resty.
Resty menyenggol lenganku.
"Ya?"tanyaku sedikit kaget.
"Aku mau ngomong ma kamu"bisiknya smabil menarikku menjauh dari meja. Aku tersenyum pada Dina dan memberikan isyarat jika aku akan kembali sebentar lagi.
Dina hanya tersenyum manis.
“Ada apa sih?”tanyaku penasaran
“Kamu tau kan kalo apapun yang aku inginkan harus aku dapatkan”jawabnya santai. Aku mengangguk pelan. “Dan kamu tau juga kan kalo aku suka sama Axelle?”
“Terus?”
“Dan aku mau dia jadi milikku”
“Kenapa bilangnya ke aku? Siapa dia siapa aku?”tanyaku sewot.
“Ya kamu bilang aja ke Dina buat jauhin si Axelle”
“Hah, maksud kamu?”
“Kalo gak mau biar aku sendiri yang bilang ma Dina”
“Bentar-betar, pasti kamu ngiranya kalo si Dina pacaran ma Axelle?”
“Lho bukannya gitu ya?”
“Eh…nona Resty perlu kamu tau ya Dina dan Axelle itu Cuma sebatas teman aja gak lebih dari itu…”
“Tapi tadi…”
“Sssst, aku belum selesai!!! Mereka berdua deket karna mereka sama-sama aktivis sekolah, so jangan salah paham ya”jelasku lalu berlalu.
Aku mempercepat langkahku agar segera sampai di meja dimana Dina masih saja sibuk dengan bukunya.
“Ayo pergi”kataku sambil membereskan buku-bukuku.
“Lho mangnya napa sih?”tanya Dina bingung
“Udahlah…ntar aja jelasinnya.”
Dina mengikutiku.
Kami berdua berjalan ke kantin tapi tak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulut kami.
“Kamu kenapa?”tanya Dina lembut.
“Si Resty nyebelin banget tau gak!!”jawabku
“Iya kenapa?”
“Aku gak suka sama sifatnya yang sombong itu”
“Eh…Resty sombong? Jangan gitu dunk. Resty tu temen kita lho”
“Aku gak peduli,pokoknya aku gak suka sama cara dia bersikap untuk dapatin apa yang dia mau”
Dina terdiam saja.
“Jangan bilang kalo ini tentang si Axelle”kata Dina dengan raut muka serius
Aku mengangguk pelan.
Dina menepuk jidatnya keras.
“Mati aku!!!!!”serunya. Aku hanya mengerutkan dahi.
to be continue
Selasa, 28 Desember 2010
A & B PART 2
Siang ini aku harus pulang tanpa Dina,karena Dina bilang kalau ada rapat OSIS mendadak.
Huft…Sinar matahari siang ini sangat-sangat menyengat bahkan terasa menyakitkan di kulit ku. Sampai-sampai aku berjalan lunglai dengan kringat bercucuran yang membasahi seluruh tubuhku.
Ah...sepertinya aku butuh air sebelum aku dehidrasi dan pingsan di jalan.
Ku hentikan langkahku dan mengedarkan pandangan ke sekelilingku, mencari warung atau minimarket yang bisa aku kunjungi.
Ah...itu dia.
Aku berjalan tergesa-gesa menyebrangi jalan raya yang padat oleh kendaraan yang lalu lalang.
Rasanya aku sudah tak sabar untuk membasahi kerongkonganku yang kering ini.
Tinggal satu lompatan lagi kakiku akan mendarat di depan minimarket itu.
Tapi.......
"Ibu aku haus.Beli minum ya"rengek seorang anak umur 6 tahun pada seorang wanita paruh baya berpakaian lusuh
"Iya ibu tau,tapi ibu ga punya uang,nak"kata si wanita sambil mengelus kepala anak lelakinya itu.
Aku menghentikan langkahku dan berpura-pura berteduh di bawah pohon yang agak rindang sambil mendengarkan anak ibu itu dari jarak yang cukup dekat.
"Terus kapan ibu punya uang?Masa mau minum aja kok harus punya uang?"protesnya, mungkin bukan protes tapi semacam celetukan khas anak-anak yang kritis.
"Ibu belum tau nak,nanti kalau ibu sudah dapat pekerjaan lalu ibu punya uang. Ibu akan memberikan apa yang kamu minta. Untuk semantara ini ibu gak bisa memberikannya. Kalau kamu haus kamu basahi saja tenggorokanmu dengan ludahmu, bisa
"Begitu ya bu?Baiklah bu,aku akan menuruti kata ibu. Aku juga akan selalu berdoa untuk ibu supaya Allah akan melancarkan rizky ibu"
“Amiin”jawab ibu itu sambil tersenyum bangga pada anaknya.
‘Amiin’ lirihku dalam hati.
Hatiku menangis terharu mendengar perbincangan mereka.
Aku ingat apa yang slama ini aku lakukan pada kedua orang tuaku,aku tak pernah bisa menerima begitu saja jika kedua orang tuaku menolak permintaanku.
Air mataku meleleh di pipiku dengan derasnya.
Aku merasa malu.
Aku malu pada diriku sendiri, kenapa anak sekecil itu bisa dengan lapang dada menerima takdir yang telah di tuliskan untuknya. Tanpa sedikit pun rasa berontak atau mencoba menyalahkan Tuhan karena merasa bahwa Tuhan sudah bertindak tak adil padanya di bandingkan aku yang di takdirkan dengan hidup berlimpah harta dan semuanya tercukupi tapi aku tetap bahkan selalusaja merasa tak pernah puas dengan apa yang aku miliki.
Ku tatap dua hamba Allah itu,lalu ku usap air mataku di pipi kemudian aku melangkah memasuki minimarket yang sudah ada di depanku.
Tak lama kemudian aku keluar dengan kantong plastik berisi 2 botol mineral dan beberapa makanan ringan.
Aku menghentikan langkahku saat melihat ibu-anak itu berjalan lunglai di tengah panasnya sorotan mentari yang sangat tak bersahabat.
Aku tersenyum kecut.
Maafkan aku,bu...aku tak punya uang lebih untuk membantumu,semoga Allah selalu menjaga dan memelukmu dari kejamnya dunia ini.amiin.
Setelah itu aku berjalan pulang menyusuri trotoar yang masih ternaungi pohon-pohon yang tumbuh dengan lebat di bandingkan trotoar di seberang
Setelah sampai rumah aku segera membersihkan tubuhku kemudian merebakan tubuhku bersiap untuk tidur siang.
Aku menatap langit-langit kamarku dan tersenyum mengingat kejadian pulang sekolah tadi siang.
Ah...aku tak akan melupakan hal itu sampai kapan pun.
Sebuah pelajaran hidup yang sangat tak ternilai harganya
*****
Seorang anak perempuan kecil dengan kuncir kuda dan wajah belepotan berlari-lari mendekati seorang ibu yang sedang duduk bersama anak lelakinya di depan kios yang tutup.
tanpa banyak berkata-kata lagi si anak perempuan itu menyerahkan sesuatu pada si wanita separuh baya itu.
si ibu mengerutkan keningnya tanda bingung.
"
"Ini untuk ibuk...."jawab anak itu sambil nyengir kuda.
"Ini apa dan dari siapa nak?"ntanya si ibu lagi.
"Dari olang"jawabnya lucu.
"Namanya?"kali ini putra ibu itu ikut bertanya.
"Atu ndak tau...katana ini buat ibuk. cudah ya atu mau puyang nanti atut di malahin ibuktu. Daa ibuk"pamit anak itu sambil berlari kecil menjauhi tempat si ibu yang masih termangu tak percaya dengan bungkusan hitam di tangannyat.
si ibu itu melongok ke dalam kantong plastik itu. kemudian matanya memebelalak lebar.
"Isinya apa bu?"tanya putranya.
"Alhamdulillah,ya Allah trimakasih atas nikmat yang kau berikan pada kami.
sayang...kita dapat rezeki.Iini minumlah"kata si ibu sambil menyodorkan botol minuman pada putranya.
"Alhamdulillah.."jawab si anak lirih.
"Oia isinya apa saja sih bu?"tanyanya penasaran.
"Ini ada minuman,makanan sama....."
"Sama apa bu?"
"Uang"jawab ibu itu lirih
"Wah....banyak sekali uangnya?jadi hari ini kita makan ‘
si ibu mengangguk sambil memeluk anak semata wayangnya.
Dan tak henti-hentinya mengucapkan hamdalah dengan lelhan air mata yang mengucur deras di pipinya yang sudah keriput.
Dari kejauhan ada sepasang mata yang menangis haru melihat itu semua....
Kemudian pergi setelah si ibu dan putranya beranjak dari tempatnya duduk tadi
****
Langganan:
Entri (Atom)