narsis depan kampus
Rabu, 30 Mei 2012
A & B part 10
Keesokan harinya Dina dan Andy merencanakan untuk mempertemukan aku dengan Axelle, sejak pagi tadi jantungku berdetak lebih cepat dari biasanya, takut membayangkan jika nanti si Axelle nanti membalas perbuatanku. Aku berharap waktu berjalan dengan sangat lambat sehingga aku masih punya waktu yang lama untuk mempersiapkan hati sebelum bertemu dengan Axelle istirahat nanti. Hari ini aku duduk di bangku paling belakang dan sendirian, sengaja karena aku tak ingin ada yang melihat kegelisahanku.
‘teet…teet…”
Ya Tuhan, bel tanda istirahat sudah berbunyi, aku merasakan jantungku berdetang semakin kencang, tanpa aku sadari keringat dingin di tubuhku mulai bermunculan tak terkendali. Aku segera melangkahkan kakiku menuju kamar mandi sekolah, berusaha untuk sembunyi dari Dina yang tadi ingin menjemputku di kelas jika istirahat tiba. Sampai di kamar mandi aku segera mengunci pintu dan berjalan mondar-mandir di dalam sambil memilin ujung rambutku yang di kuncir kuda. Kali ini aku berharap jika waktu berjalan secepat mungkin.
5 menit didalam kamar mandi terasa berjam-jam, aku keluar kamar mandi dan mengintip dibalik tembok. Jarak toilet dan kantin memang tidak terlalu jauh mungkin sekitar 100 meter. Aku melihat Dina, Andy dan Axelle duduk dimeja dekat kolam ikan sehingga aku bisa dengan mudah memperhatikan mereka secara diam-diam. Ku lirik jam tangan yang melingkar di pergelangan tanganku. Aku mendengus sebal karena mengetahui jika waktu istirahat masih sangat-sangat lama. Kembali aku masuk ke dalam kamar mandi dan menunggu waktu istirahat habis.
25 menit kemudian aku mendengar bahwa waktu istirahat telah habis, aku tersenyum puas dan segera keluar dari kamar mandi. Aku masih menunggu sekitar 5 menit untuk benar-benar kembali ke kelas, memastikan Dina, Andy dan Axelle sudah kembali ke kelas mereka. Ku lihat kantin sudah sepi dengan murid-murid, segera aku menuju kelas.
“Kemana aja sih? Gak ngrasa ya kalo di tungguin orang?” sebuah suara berat mengagetkanku tapi tak menghentikan langkahku, aku menoleh untuk melihat pemilik suara itu dan memastikan apakah dia sedang bicara denganku atau tidak. Aku semakin terkejut melihat orang yang ada dibelakangku adalah Axelle bahkan aku kehilangan sedikit keseimbangan tubuhku hingga membuatku hampir terjengkang sebelum ada tangan yang menarik tanganku ke arahnya dan justru malah membuatku jatuh kelantai koridor. Kalo di film-film atau di drama percintaan ada adegen seperti ini pasti pemeran wanita jatuh ke pelukan pemeran pria atau pemeran wanita jatuh di atas tubuh pemeran pria dan tanpa sengaja mereka malah ciuman. Lah ini? Emang sih Axelle telah menarik tanganku kearahnya dan HAMPIR memelukku, tapi tiba-tiba Axelle melepaskan tanganku dan membuatku jatuh telungkup di lantai sedangkan dia jatuh terduduk di bangku panjang yang ada di depan tiap kelas disekolah. Rasa malu campur kesal menjadi satu, mungkin wajahku saat ini memerah seperti udang rebus. Aku segera bangun.
“Mmm…maaf ya”kataku lirih sambil tertunduk malu di depannya. Axelle juga ikut berdiri.
“Iya, aku juga minta maaf karna dah buat kamu jatuh” katanya sambil berlalu.
“Eh…Axelle…”
Axelle menghentikan langkahnya dan tanpa menoleh sedikit pun.
“Makasih ya” kataku
Axelle tak menjawab dan langsung melangkahkan kakinya menjauh dariku. Aku semakin merasa bersalah dengan tindakanku barusan. Aku juga semakin malu, sangat malu. Tapi sisi hatiku juga kesal dengan tingkahnya yang sok cool itu. Padahal kalo sama cewek lain dia baik banget, perhatian banget, tapi kenapa sih dia gak pernah sedikit aja baik sama aku. Uh, menyebalkan.!
Tobe continue
A & B part 9
Tiba-tiba Dina tertawa keras, sekarang aku yang berbalik heran menatapnya.
“Ya ampun ternyata kamu ngira kalo aku pacaran ma si…”
“Lha emang kan kalo kalian itu pacaran?”
Dina gantian menarik tanganku kembali ke ruang tamu dan masih sambil tertawa terpingkal-pingkal, Andy yang tadinya sibuk mengerjakan soal jadi ikutan heran melihat Dina tertawa.
“Ada apa sih?”tanyanya.
“Ini lho ada yang lagi salah paham”
“Salah paham tentang apa?”
“Masa aku dikira pacaran ma Axelle? Gak mungkin bangetlah aku pacaran ma dia, ya gak yank?”jawab Dina sambil duduk di sebelah Andy.
“Eh tunggu deh, kok yank?”tanyaku.
“Belva, dari awal sebenernya aku pengen ceritain semuanya ke kamu, tapi gak pernah ada waktu yang tepat. Tadi udah mau aku ceritain malahan kamu potong. Andy inilah pacar aku, bukan Axelle.”jelas Dina setelah tawanya mereda.
“Tapi waktu kamu beli jam dulu kenapa ada Axelle? Waktu itu juga dia pegang jam yang kamu beli kan?”
“Oh jadi kamu lihat?? Iya sebenernya aku emang dah janjian sama si Axelle buat ketemuan, Axelle kan tau banget tentang selera Andy. Mumpung masih ada di tempat yang sama, jadi kalo kurang cocok bisa langsung ditukerin, gitu. Sebenernya waktu itu juga ada Andy, Cuma dia pergi dulu katanya mau ke toilet tapi ternyata mampir di tempat aksesoris buat beliin aku gelang ini” jawab Dina sambil menunjukkan gelang ungu yang melingkar di pergelangan tangannya.
“Terus juga kenapa waktu kamu kerumahku, kamu telpon-telponan sama si Axelle? Waktu pulang juga yang jemput pake motornya Axelle. Terus kamu juga jadi sering rapat OSIS seolah-olah lupa sama aku”
“Kalo itu biar dijelasin ma Andy langsung”
“Iya, jadi gini Belva. Sebenernya aku dah lama suka sama Dina waktu kalian masih kelas 1, tapi sayangnya aku dah punya pacar yang kebetulan kakak kelasku. Selama aku masih pacaran, Axelle yang slalu gencar-gencarnya promosiin Dina ke aku, sampe akhirnya aku putus sama mantan pacarku karna dia mau nerusin kuliahnya ke luar negeri. Setelah itu aku mulai tanggepin promosi si Axelle, aku juga seneng banget waktu tau kalo Dina juga punya rasa yang sama ke aku. Makanya PDKT kami gak pake lama, langsung jadian. Malam itu aku lagi main di rumah Axelle terus aku juga emang pinjem handphone Axelle, soalnya bonusan telponnya gak pernah dipake, hehehehe. Dan Yang jemput Dina itu juga sebenernya aku, pinjem motornya Axelle juga soalnya motorku di pake dia keluar buat beliin adiknya nasi goreng. Dan untuk masalah rapat OSIS itu emang kami bener-bener rapat. Tapi seringnya Axelle gak ikut karna dia bukan panitia dari acara yang mau di buat sama anak OSIS lainnya, kamu kan tau dulu aku juga pernah punya jabatan yang sama kayak Dina, kebetulan Bu Indah memintaku buat bimbing bagian bendahara biar tetep sama kayak bendahara-bendahara sebelumnya”jelas Andy panjang lebar.
Aku merasa sangat malu mendengar penjelasan mereka berdua, aku juga malu dengan Axelle karna telah berpikiran buruk bahkan juga sudah bertindak buruk terhadapnya, padahal aku sebenarnya tak tau apa-apa.
“Jadi selama ini aku udah salah paham sama Axelle donk?”kataku.
“Memang”koor Dina dan Andy.
“Aku harus minta maaf sama Axelle donk?, aduh aku takut dia malah marah”
“Gak kok, Axelle itu orangnya pemaaf, kamu pasti dimaafin ma dia”kata Andy yang berusaha menenangkanku.
“Apa iya dia mau maafin orang yang udah guyur dia pake orange juice dan juga yang udah nampar dia?”
“HAH??!! KAMU NGLAKUIN ITU?”koor Dina dan Andy lagi. Aku hanya mengangguk pelan.
“Astaga, jadi cewek yang dicritain ma Axelle itu kamu?”gumam Andy. “Waktu itu dia uring-uringan di rumah, dia marah banget”terusnya.
Mendengar itu aku jadi semakain merasa bersalah, bahkan air mataku sudah berebut untuk melompat keluar. Dina pindah duduk di sebelahku dan langsung memelukku. Tangisku pun langsung pecah, aku memang tipe cewek yang mudah meneteskan air mata saat merasa bersalah atau saat melihat sesuatu yang sangat menyentuh hatiku.
“Ya udah jangan nagis lagi ya, besok aku bujuk Axelle biar mau maafin kamu”
“Makasih ya Kak”kataku dalam isak tangisku. Andy hanya mengangguk pelan.
To be continue
Senin, 21 Mei 2012
A & B part 8
Malam harinya ketika aku sedang sibuk mengerjakan tugas Akuntansi, Dina datang kerumahku. Katanya ingin meminta tolong padaku untuk membuatkan puisi untuk tugas Bahasa Indonesia-nya.
Aku pun mengalah dan segera mengambil kertas untuk tempat jariku menari-nari menggoreskan kata demi kata untuk sahabatku tercinta ini. Ku lirik Dina yang sedang sibuk membolak-balik majalah yang katanya di belinya waktu pulang sekolah tadi. Tiba-tiba HP Dina berteriak melantunkan sebuah lagu Korea.
”Halo...hai sayang?” sapa Dina pada orang yang diseberang sana. Aku kembali mengalihkan perhatianku pada secarik kertas dihadapanku, tak ingin mencampuri urusan orang lain. 15 menit kemudian lahirlah satu karyaku, tapi Dina masih asyik dengan telponnya. Aku pun meneruskan PR yang belum selesai tadi. Konsentrasiku buyar karena mendengar Dina yang terus mesra-mesraan dengan seseorang diseberang sana yang aku tak tau siapa dia. Tapi aku terus mencoba mengembalikan konsentrasiku untuk 2 soal ini. Aku mengomel dalam hati, 2 soal ini sangat menguras energi berfikirku. Karna memang kelemahanku adalah pelajaran tentang hitungan. Rasanya aku ingin menyerah saja. Aku Sudah tak terdengar suara Dina yang ngobrol dengan telponnya. Dina yang melihatku kesusahan pun segera turun tangan untuk membantuku menyelesaikan tugasku. Dalam waktu 5 menit 2 soalku terjawab sudah. Dina beranjak dari duduknya dan berjalan menjauh dariku.
”Mau pulang?” tanyaku.
”Gak, aku pengen ke kamar mandi” jawabnya tanpa menoleh padaku. Aku melihat handphone Dina tergeletak atas kasurku. Aku segera mengambilnya dan melihat siapa yang menelponnya tadi. Di layar tertera nama Axelle. Kini terjawab sudah rasa penasaranku selama ini, sudah bisa dipastikan pacar barunya Dina adalah Axelle. Segera aku meletakkan handphone Dina kembali. Tak lama kemudian Dina keluar kamar mandi.
”Aku pulang ya, Va” katanya.
”Cepet banget?”
”Iya, mas pacar dah jemput soalnya, hihihi”
”Hm..pantesan. Jadi kamu kesini cuma buat nyuruh aku ngerjain tugas kamu??? Huh, dasar!”
”Eeh...jangan ngambek donk, kan tadi aku juga dah bantuin kamu ngerjain PR kamu” jawab Dina sambil memelukku dari belakang.
”Iya deh tapi aku jangan dicuekin mulu donk”
”Iya, maaf ya aku jadi sibuk banget, janji deh besok seharian kita bareng lagi”
”Bener?!”
”Hu’um”
Aku pun tersenyum melepas kepulangannya bahkan aku mengantarkan Dina sampai di depan gerbang. Ternyata sudah ada sebuah Ducati 999 warna merah dengan pengendaranya yang berjaket kulit senada dengan warna motornya. Meskipun dia tidak membuka kaca helmnya aku bisa mengenali siapa pengemudi itu. Siapa lagi kalo bukan Axelle sang pemilik motor tersebut. Ya, Axelle memang sering membawa motor sport itu ke sekolah. Aku segera masuk ke dalam rumah setelah Dina dan ’pacarnya’ menghilang dari pandanganku.
***
Besoknya di sekolah ternyata si Dina tidak menepati janjinya, aku kembali sendirian di kantin setelah Dina mendapat telpon dari sang pacar untuk rapat OSIS dadakan. Aku berhenti menghisap gelas berisi jus melon kesukaanku karna lagi-lagi ada yang menyita perhatianku. Tak jauh dari mejaku aku melihat Rasty bersama Axelle sedang bermesraan, bahkan saat Rasty menyuapkan potongan bakso, Axelle tak ragu menerimanya. Melihat itu aku reflek berdiri dan menghampiri meja mereka.
‘Braak!!’
Rasty dan Axelle terlonjak kaget dengan tindakanku barusan. Tanpa mengatakan apa-apa aku segera mengguyurkan segelas jus jeruk yang ada dihadapanku ke wajah Axelle. Sontak Axelle berdiri dan semua orang di kantin menoleh kearah kami. Aku tak peduli, amarahku mengalahkan rasa malu ku.
“Eh kamu apa-apaan sih?!” bentak Rasty yang ikut-ikutan berdiri dan sambil membantu Axelle membersihkan wajahnya dengan tissue.
“Diem kamu! Ini bukan urusan kamu!” bentakku
“Maksud kamu apa sih? Apa salahku sampe kamu lakuin ini ke aku?” Tanya Axelle padaku dengan nada tanpa marah.
“Hah, gak ngrasa ya apa salah kamu? Dasar cowok gak setia, dah punya pacar masih aja nyari cewek lain!!”
“Pacar?? Maksud kamu itu apa sih?” Tanya Axelle lagi dan semakin bingung.
“Pake tanya lagi!! Emang ya, kamu tuh gak ada bedanya sama cowok lain yang suka mainin perasaan cewek. Tolong donk kamu ngertiin perasaan si Dina, gimana kalo dia tau apa yang kamu lakuin sama Rasty disini”
Axelle tak menjawab cercaanku bahkan wajahnya semakin bingung dengan apa yang aku ucapkan.
“Gak usah sok polos deh, udah nembak Dina masih ja jalan ma Rasty!! Dasar player!! Lihat aja nanti aku bakal cerita semuanya ke Dina”
“Hah, nembak Dina? Kamu salah Belva, aku tuh gak jadian ma Dina, aku juga gak pernah nembak Dina”
“WHAATT????!!!”
‘PLAK!’
Reflek aku melayangkan tanganku ke pipi Axelle. Dan itu sukses membuat orang yang menonton kami semakin ternganga lebar. Tanpa berkata-kata lagi aku segera pergi dengan rasa sesak didada. Aku ingin menangis, tak kuasa aku jika harus menceritakan semua ini pada Dina, dia pasti akan sangat terpukul dengan semua ini. Aku merasa bersalah karna selama ini aku menyembunyikan rahasia Axelle. Tanpa bisa aku menahannya, air mataku meloncat jatuh ke pipiku.
Malam harinya aku segera mendatangi rumah Dina tanpa memberitaunya terlebih dahulu. Aku melajukan motor bebekku dengan kecepatan yang lumayan tinggi, aku tak ingin menunda-nunda lagi. Perjalanan 15 menit terasa berjam-jam untukku. Sampai di depan pagar rumah Dina, aku segera masuk tanpa memasukkan motorku ke garasi seperti biasanya, di halaman rumah Dina telah bertengger sebuah Ducati Streetfighter merah.
“Hai Din” sapaku melihat Dina bersama dengan seseorang di ruang tamu.
“Eh belva, tumben main gak bilang-bilang dulu. Ada apa?” kata Dina. Aku masuk dan duduk disebelahnya.
“Lho, kak Andy?? Ngapain disini?” Tanyaku terkejut melihat Andy, sepupu Axelle, ada dirumah Dina.
“Iya, nih lagi bantuin si Dina ngerjain PR kimia”
Tak heran jika Dina meminta Andy untuk mengajarinya tentang kimia, karena memang Andy pernah memenangkan olimpiade kimia tapi aku tak tau tingkat apa,hehehe aku memang tak pernah peduli dengan urusan orang lain.
“Oh…eh Din, ada yang mau aku omongin nih” kataku.
“Oiya??? Tentang apa? Eh sebelumnya mumpung kamu disini sekalian aku kasih tau kalo pacarku…”
“Aku dah tau, aku kesini juga mau bicarain masalah pacar kamu yang kurang ajar itu” potongku.
“Hah??? Maksudnya?”
Sebelum menjawab aku segera menarik tangan Dina agar menjauh dari Andy, aku membawanya masuk ke dalam kamarnya yang sudah aku anggap rumahku sendiri. Aku segera menceritakan tentang perbuatan Axellle yang aku tau selama ini, aku juga memelas meminta maaf karna aku tak pernah bisa menyampaikan hal itu padanya. Dina hanya bengong melihat penjelasanku.
Aku tau mungkin itu membuatnya syok, tak akan menyangka jika kekasih yang selama ini dia banggakan kini justru menghianatinya.
tobe continue
Langganan:
Komentar (Atom)