narsis depan kampus
Senin, 21 Mei 2012
A & B part 8
Malam harinya ketika aku sedang sibuk mengerjakan tugas Akuntansi, Dina datang kerumahku. Katanya ingin meminta tolong padaku untuk membuatkan puisi untuk tugas Bahasa Indonesia-nya.
Aku pun mengalah dan segera mengambil kertas untuk tempat jariku menari-nari menggoreskan kata demi kata untuk sahabatku tercinta ini. Ku lirik Dina yang sedang sibuk membolak-balik majalah yang katanya di belinya waktu pulang sekolah tadi. Tiba-tiba HP Dina berteriak melantunkan sebuah lagu Korea.
”Halo...hai sayang?” sapa Dina pada orang yang diseberang sana. Aku kembali mengalihkan perhatianku pada secarik kertas dihadapanku, tak ingin mencampuri urusan orang lain. 15 menit kemudian lahirlah satu karyaku, tapi Dina masih asyik dengan telponnya. Aku pun meneruskan PR yang belum selesai tadi. Konsentrasiku buyar karena mendengar Dina yang terus mesra-mesraan dengan seseorang diseberang sana yang aku tak tau siapa dia. Tapi aku terus mencoba mengembalikan konsentrasiku untuk 2 soal ini. Aku mengomel dalam hati, 2 soal ini sangat menguras energi berfikirku. Karna memang kelemahanku adalah pelajaran tentang hitungan. Rasanya aku ingin menyerah saja. Aku Sudah tak terdengar suara Dina yang ngobrol dengan telponnya. Dina yang melihatku kesusahan pun segera turun tangan untuk membantuku menyelesaikan tugasku. Dalam waktu 5 menit 2 soalku terjawab sudah. Dina beranjak dari duduknya dan berjalan menjauh dariku.
”Mau pulang?” tanyaku.
”Gak, aku pengen ke kamar mandi” jawabnya tanpa menoleh padaku. Aku melihat handphone Dina tergeletak atas kasurku. Aku segera mengambilnya dan melihat siapa yang menelponnya tadi. Di layar tertera nama Axelle. Kini terjawab sudah rasa penasaranku selama ini, sudah bisa dipastikan pacar barunya Dina adalah Axelle. Segera aku meletakkan handphone Dina kembali. Tak lama kemudian Dina keluar kamar mandi.
”Aku pulang ya, Va” katanya.
”Cepet banget?”
”Iya, mas pacar dah jemput soalnya, hihihi”
”Hm..pantesan. Jadi kamu kesini cuma buat nyuruh aku ngerjain tugas kamu??? Huh, dasar!”
”Eeh...jangan ngambek donk, kan tadi aku juga dah bantuin kamu ngerjain PR kamu” jawab Dina sambil memelukku dari belakang.
”Iya deh tapi aku jangan dicuekin mulu donk”
”Iya, maaf ya aku jadi sibuk banget, janji deh besok seharian kita bareng lagi”
”Bener?!”
”Hu’um”
Aku pun tersenyum melepas kepulangannya bahkan aku mengantarkan Dina sampai di depan gerbang. Ternyata sudah ada sebuah Ducati 999 warna merah dengan pengendaranya yang berjaket kulit senada dengan warna motornya. Meskipun dia tidak membuka kaca helmnya aku bisa mengenali siapa pengemudi itu. Siapa lagi kalo bukan Axelle sang pemilik motor tersebut. Ya, Axelle memang sering membawa motor sport itu ke sekolah. Aku segera masuk ke dalam rumah setelah Dina dan ’pacarnya’ menghilang dari pandanganku.
***
Besoknya di sekolah ternyata si Dina tidak menepati janjinya, aku kembali sendirian di kantin setelah Dina mendapat telpon dari sang pacar untuk rapat OSIS dadakan. Aku berhenti menghisap gelas berisi jus melon kesukaanku karna lagi-lagi ada yang menyita perhatianku. Tak jauh dari mejaku aku melihat Rasty bersama Axelle sedang bermesraan, bahkan saat Rasty menyuapkan potongan bakso, Axelle tak ragu menerimanya. Melihat itu aku reflek berdiri dan menghampiri meja mereka.
‘Braak!!’
Rasty dan Axelle terlonjak kaget dengan tindakanku barusan. Tanpa mengatakan apa-apa aku segera mengguyurkan segelas jus jeruk yang ada dihadapanku ke wajah Axelle. Sontak Axelle berdiri dan semua orang di kantin menoleh kearah kami. Aku tak peduli, amarahku mengalahkan rasa malu ku.
“Eh kamu apa-apaan sih?!” bentak Rasty yang ikut-ikutan berdiri dan sambil membantu Axelle membersihkan wajahnya dengan tissue.
“Diem kamu! Ini bukan urusan kamu!” bentakku
“Maksud kamu apa sih? Apa salahku sampe kamu lakuin ini ke aku?” Tanya Axelle padaku dengan nada tanpa marah.
“Hah, gak ngrasa ya apa salah kamu? Dasar cowok gak setia, dah punya pacar masih aja nyari cewek lain!!”
“Pacar?? Maksud kamu itu apa sih?” Tanya Axelle lagi dan semakin bingung.
“Pake tanya lagi!! Emang ya, kamu tuh gak ada bedanya sama cowok lain yang suka mainin perasaan cewek. Tolong donk kamu ngertiin perasaan si Dina, gimana kalo dia tau apa yang kamu lakuin sama Rasty disini”
Axelle tak menjawab cercaanku bahkan wajahnya semakin bingung dengan apa yang aku ucapkan.
“Gak usah sok polos deh, udah nembak Dina masih ja jalan ma Rasty!! Dasar player!! Lihat aja nanti aku bakal cerita semuanya ke Dina”
“Hah, nembak Dina? Kamu salah Belva, aku tuh gak jadian ma Dina, aku juga gak pernah nembak Dina”
“WHAATT????!!!”
‘PLAK!’
Reflek aku melayangkan tanganku ke pipi Axelle. Dan itu sukses membuat orang yang menonton kami semakin ternganga lebar. Tanpa berkata-kata lagi aku segera pergi dengan rasa sesak didada. Aku ingin menangis, tak kuasa aku jika harus menceritakan semua ini pada Dina, dia pasti akan sangat terpukul dengan semua ini. Aku merasa bersalah karna selama ini aku menyembunyikan rahasia Axelle. Tanpa bisa aku menahannya, air mataku meloncat jatuh ke pipiku.
Malam harinya aku segera mendatangi rumah Dina tanpa memberitaunya terlebih dahulu. Aku melajukan motor bebekku dengan kecepatan yang lumayan tinggi, aku tak ingin menunda-nunda lagi. Perjalanan 15 menit terasa berjam-jam untukku. Sampai di depan pagar rumah Dina, aku segera masuk tanpa memasukkan motorku ke garasi seperti biasanya, di halaman rumah Dina telah bertengger sebuah Ducati Streetfighter merah.
“Hai Din” sapaku melihat Dina bersama dengan seseorang di ruang tamu.
“Eh belva, tumben main gak bilang-bilang dulu. Ada apa?” kata Dina. Aku masuk dan duduk disebelahnya.
“Lho, kak Andy?? Ngapain disini?” Tanyaku terkejut melihat Andy, sepupu Axelle, ada dirumah Dina.
“Iya, nih lagi bantuin si Dina ngerjain PR kimia”
Tak heran jika Dina meminta Andy untuk mengajarinya tentang kimia, karena memang Andy pernah memenangkan olimpiade kimia tapi aku tak tau tingkat apa,hehehe aku memang tak pernah peduli dengan urusan orang lain.
“Oh…eh Din, ada yang mau aku omongin nih” kataku.
“Oiya??? Tentang apa? Eh sebelumnya mumpung kamu disini sekalian aku kasih tau kalo pacarku…”
“Aku dah tau, aku kesini juga mau bicarain masalah pacar kamu yang kurang ajar itu” potongku.
“Hah??? Maksudnya?”
Sebelum menjawab aku segera menarik tangan Dina agar menjauh dari Andy, aku membawanya masuk ke dalam kamarnya yang sudah aku anggap rumahku sendiri. Aku segera menceritakan tentang perbuatan Axellle yang aku tau selama ini, aku juga memelas meminta maaf karna aku tak pernah bisa menyampaikan hal itu padanya. Dina hanya bengong melihat penjelasanku.
Aku tau mungkin itu membuatnya syok, tak akan menyangka jika kekasih yang selama ini dia banggakan kini justru menghianatinya.
tobe continue
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar