narsis depan kampus

narsis depan kampus

Selasa, 28 Desember 2010

A & B PART 2


Siang ini aku harus pulang tanpa Dina,karena Dina bilang kalau ada rapat OSIS mendadak.
Huft…Sinar matahari siang ini sangat-sangat menyengat bahkan terasa menyakitkan di kulit ku. Sampai-sampai aku berjalan lunglai dengan kringat bercucuran yang membasahi seluruh tubuhku.
Ah...sepertinya aku butuh air sebelum aku dehidrasi dan pingsan di jalan.
Ku hentikan langkahku dan mengedarkan pandangan ke sekelilingku, mencari warung atau minimarket yang bisa aku kunjungi.
Ah...itu dia.
Aku berjalan tergesa-gesa menyebrangi jalan raya yang padat oleh kendaraan yang lalu lalang.
Rasanya aku sudah tak sabar untuk membasahi kerongkonganku yang kering ini.
Tinggal satu lompatan lagi kakiku akan mendarat di depan minimarket itu.
Tapi.......
"Ibu aku haus.Beli minum ya"rengek seorang anak umur 6 tahun pada seorang wanita paruh baya berpakaian lusuh
"Iya ibu tau,tapi ibu ga punya uang,nak"kata si wanita sambil mengelus kepala anak lelakinya itu.
Aku menghentikan langkahku dan berpura-pura berteduh di bawah pohon yang agak rindang sambil mendengarkan anak ibu itu dari jarak yang cukup dekat.
"Terus kapan ibu punya uang?Masa mau minum aja kok harus punya uang?"protesnya, mungkin bukan protes tapi semacam celetukan khas anak-anak yang kritis.
"Ibu belum tau nak,nanti kalau ibu sudah dapat pekerjaan lalu ibu punya uang. Ibu akan memberikan apa yang kamu minta. Untuk semantara ini ibu gak bisa memberikannya. Kalau kamu haus kamu basahi saja tenggorokanmu dengan ludahmu, bisa kan?"jelas si ibu dengan  sabar
"Begitu ya bu?Baiklah bu,aku akan menuruti kata ibu. Aku juga akan selalu berdoa untuk ibu supaya Allah akan melancarkan rizky ibu"
“Amiin”jawab ibu itu sambil tersenyum bangga pada anaknya.
‘Amiin’ lirihku dalam hati.
Hatiku menangis terharu mendengar perbincangan mereka.
Aku ingat apa yang slama ini aku lakukan pada kedua orang tuaku,aku tak pernah bisa menerima begitu saja jika kedua orang tuaku menolak permintaanku.
Air mataku meleleh di pipiku dengan derasnya.
Aku merasa malu.
Aku malu pada diriku sendiri, kenapa anak sekecil itu bisa dengan lapang dada menerima takdir yang telah di tuliskan untuknya. Tanpa sedikit pun rasa berontak atau mencoba menyalahkan Tuhan karena merasa bahwa Tuhan sudah bertindak tak adil padanya di bandingkan aku yang di takdirkan dengan hidup berlimpah harta dan semuanya tercukupi tapi aku tetap bahkan selalusaja merasa tak pernah puas dengan apa yang aku miliki.
Ku tatap dua hamba Allah itu,lalu ku usap air mataku di pipi kemudian aku melangkah memasuki minimarket yang sudah ada di depanku.
Tak lama kemudian aku keluar dengan kantong plastik berisi 2 botol mineral dan beberapa makanan ringan.
Aku menghentikan langkahku saat melihat ibu-anak itu berjalan lunglai di tengah panasnya sorotan mentari yang sangat tak bersahabat.
Aku tersenyum kecut.
Maafkan aku,bu...aku tak punya uang lebih untuk membantumu,semoga Allah selalu menjaga dan memelukmu dari kejamnya dunia ini.amiin.
Setelah itu aku berjalan pulang menyusuri trotoar yang masih ternaungi pohon-pohon yang tumbuh dengan lebat di bandingkan trotoar di seberang sana yang terlihat layaknya neraka tanpa naungan dari sejuknya daun-daun rindang dari pohon ini
Setelah sampai rumah aku segera membersihkan tubuhku kemudian merebakan tubuhku bersiap untuk tidur siang.
Aku menatap langit-langit kamarku dan tersenyum mengingat kejadian  pulang sekolah tadi siang.
Ah...aku tak akan melupakan hal itu sampai kapan pun.
Sebuah pelajaran hidup yang sangat tak ternilai harganya

                                                                            *****

Seorang anak perempuan kecil dengan kuncir kuda dan wajah belepotan  berlari-lari mendekati seorang ibu yang sedang duduk bersama anak lelakinya di depan kios yang tutup.
tanpa banyak berkata-kata lagi si anak perempuan itu menyerahkan sesuatu pada si wanita separuh baya itu.
si ibu mengerutkan keningnya tanda bingung.
"Ada apa nak?"tanya si ibu lembut sambil mengelus lembut pipi si anak perempuan tersebut.
"Ini untuk ibuk...."jawab anak itu sambil nyengir kuda.
"Ini apa dan dari siapa nak?"ntanya si ibu lagi.
"Dari olang"jawabnya lucu.
"Namanya?"kali ini putra ibu itu ikut bertanya.
"Atu ndak tau...katana ini buat ibuk. cudah ya atu mau puyang nanti atut di malahin ibuktu. Daa ibuk"pamit anak itu sambil berlari kecil menjauhi tempat si ibu yang masih termangu tak percaya dengan bungkusan hitam di tangannyat.
si ibu itu melongok ke dalam kantong plastik itu. kemudian matanya memebelalak lebar.
"Isinya apa bu?"tanya putranya.
"Alhamdulillah,ya Allah trimakasih atas nikmat yang kau berikan pada kami.
sayang...kita dapat rezeki.Iini minumlah"kata si ibu sambil menyodorkan botol minuman pada putranya.
"Alhamdulillah.."jawab si anak lirih.
"Oia isinya apa saja sih bu?"tanyanya penasaran.
"Ini ada minuman,makanan sama....."
"Sama apa bu?"
"Uang"jawab ibu itu lirih
"Wah....banyak sekali uangnya?jadi hari ini kita makan ‘kan bu?"
si ibu mengangguk sambil memeluk anak semata wayangnya.
Dan tak henti-hentinya mengucapkan hamdalah dengan lelhan air mata yang mengucur deras di pipinya yang sudah keriput.
Dari kejauhan ada sepasang mata yang menangis haru melihat itu semua....
Kemudian pergi setelah si ibu dan putranya beranjak dari tempatnya duduk tadi

                                                                      ****

2 komentar: