narsis depan kampus

narsis depan kampus

Minggu, 22 April 2012

A & B part 7

”Aku jadian!”serunya disusul dengan tawa renyahnya, justru aku yang terdiam mendengar kabar tersebut, aku marah bahkan ingin aku katakan semuanya tentang Axelle tadi sore. Tapi, aku tak tega jika harus menghancurkan kebahagiaan temanku ini, apa lagi baru kali ini si Dina pacaran. Aku bingung harus mengucapkan kata selamat ataukah justru malah menyuruhnya untuk segera memutuskan Axelle. ”Va, kamu dengar kan?” tanya Dina yang rupanya menyadari ketidakbahagiaanku dengan berita tersebut. ”Oh iya Din, aku denger kok. Aku kaget aja denger berita itu. Oiya,selamat ya” ”Iya, makasih ya Va. Besok aku traktir deh di kantin. Ok,ok,ok?” ”Oke Dina” Tak lama kemudian Dina menutup telponnya. Aku masih termenung duduk di tepi kasurku. Aku tak habis pikir dengan si Axelle yang tega sekali melakukan hal itu pada Dina, sahabatku. Bahkan tadi Dina bilang kedua orang tuanya ada saat Dina di ’tembak’. Aduuh, dimana sih hati nurani si Axelle itu??? Dasar cowok tak tau malu, bayangkan saja baru tadi sore dia mesra-mesraan dengan Rasty tapi malam harinya dia malah nembak Dina. Atau mungkin si Axelle baru sadar kalo tindakannya yang tadi sore itu salah, terus dia akhirnya memutuskan bahwa cewek terbaik buatnya adalah si Dina, begitu? Hm...ya, mungkin memang begitu. Ya sudahlah, lagian si Dina sangat bahagia rasanya, tak pantas jika sahabatku yang sengaja berbagi kebahagiaan denganku tapi justru aku tak ikut bahagia. Aku bangun dari dudukku dan segera mematikan laptopku, aku harus segera tidur supaya besok tidak bangun kesiangan. Besok harinya aku berangkat sekolah diantar oleh papaku, katanya ada urusan penting yang kebetulan searah dengan sekolahku. Aku sih ikut saja toh tidak setiap hari aku diantar papaku tersayang,hehehehe. Sampai sekolah si Dina sudah menungguku di depan kelasku. ”Pagi Belva” ”Pagi Din” ”Ayok ke kantin sekarang , aku pengen traktir kamu” ”Hah, masa pagi-pagi gini kamu ngajak ke kantin? Aku tadi udah sarapan dirumah, gak kuat kalo diisi lagi” ”Aduh kalo ntar aku gak bisa, nanti istirahat aku ada rapat OSIS” ”Hm...rapat kok terus sih? Mau rapat apa mau pacaran?” ”Hehehe, sambil menyelam minum airlah, Va. Ngirit waktu gitu lho. Ayo kamu mau gak aku traktir??” ”Ogah ah, aku gak pengen di traktir tapi orang yang traktir aku gak tenang gara-gara sibuk!” kataku ketus. ”Yaaaaah, kok ngambek sih?” ”Kalo gitu kamu traktir aku kapan-kapan aja, cari waktu yang pas” ”Iya,iya. Maaf ya sayang” kata Dina sambil memelukku erat. Aku tak tega juga melihat wajahnya yang terlihat bersalah. Memang sejak dirinya aktif di OSIS seakan-akan Dina tak punya waktu lagi untukku kecuali hari minggu itu juga sangat jarang. Aku sebagai sahabatnya kadang merasa sedih jika Dina tak seperti dulu yang slalu ada untukku. Ah ya sudahlah, yang penting Dina masih ingat sama aku meski pun tidak seperti dulu. Setelah itu, Dina pergi kekelasnya. Maklum Dina anak IPA sedangkan aku anak IPS, jadi kami berdua tidak satu kelas. Hari ini rasanya mood ku sedang tak baik, seakan-akan susah sekali untuk tersenyum. Sampai-sampai pak Naga guru Sejarahku tak berani bertanya atau menyuruhku untuk maju ke depan untuk mengerjakan soal yang dibuatnya. Bagi ku hari ini waktu berjalan sangat lambat bahkan lebih lambat dari jalannya siput mungkin jika bisa di adu akan lebih cepat si siput. ”Kamu kenapa, Va?” tanya Rina teman sebangkuku. Aku hanya menggeleng dan sedikit tersenyum. Rina pun ikut tersenyum dia tau itu berarti aku sedang tak ingin di ganggu. Lagi-lagi aku pulang sekolah seorang diri tanpa Dina yang biasa menemaniku menunggu jemputan. Aku duduk di bawah pohon dekat dengan gerbang sekolah, sebuah jazz silver melintas di depanku dan berhenti. Perlahan kaca jendela tersebut turun. Muncul Dina dengan senyum manisnya. ”Belva...pulang bareng kita aja yuk” ajaknya ”Iya dari pada nungguin jemputan yang gak dateng-dateng” sahut Andy yang duduk dibelakang stir mobil. Aku melihat masih ada tempat duduk di jok belakang, di sebelah Axelle yang sedang asyik dengan handphone miliknya. Tapi aku menggeleng menjawab ajakan Dina dan Andy tersebut, lagian aku males kalo harus duduk sebelahan dengan si cowok nyebelin itu. Akhirnya mobill tersebut melaju meninggalkanku setelah aku yakin tak ingin pulang bersama mereka. 10 menit setelah kepergian Dina, supir keluargaku pun datang. Aku segera pulang kerumah dan merebahkan tubuhku menghilangkan lelah yang sedari tadi menghinggapiku. #to be continue

Tidak ada komentar:

Posting Komentar