need angel
narsis depan kampus
Rabu, 30 Mei 2012
A & B part 10
Keesokan harinya Dina dan Andy merencanakan untuk mempertemukan aku dengan Axelle, sejak pagi tadi jantungku berdetak lebih cepat dari biasanya, takut membayangkan jika nanti si Axelle nanti membalas perbuatanku. Aku berharap waktu berjalan dengan sangat lambat sehingga aku masih punya waktu yang lama untuk mempersiapkan hati sebelum bertemu dengan Axelle istirahat nanti. Hari ini aku duduk di bangku paling belakang dan sendirian, sengaja karena aku tak ingin ada yang melihat kegelisahanku.
‘teet…teet…”
Ya Tuhan, bel tanda istirahat sudah berbunyi, aku merasakan jantungku berdetang semakin kencang, tanpa aku sadari keringat dingin di tubuhku mulai bermunculan tak terkendali. Aku segera melangkahkan kakiku menuju kamar mandi sekolah, berusaha untuk sembunyi dari Dina yang tadi ingin menjemputku di kelas jika istirahat tiba. Sampai di kamar mandi aku segera mengunci pintu dan berjalan mondar-mandir di dalam sambil memilin ujung rambutku yang di kuncir kuda. Kali ini aku berharap jika waktu berjalan secepat mungkin.
5 menit didalam kamar mandi terasa berjam-jam, aku keluar kamar mandi dan mengintip dibalik tembok. Jarak toilet dan kantin memang tidak terlalu jauh mungkin sekitar 100 meter. Aku melihat Dina, Andy dan Axelle duduk dimeja dekat kolam ikan sehingga aku bisa dengan mudah memperhatikan mereka secara diam-diam. Ku lirik jam tangan yang melingkar di pergelangan tanganku. Aku mendengus sebal karena mengetahui jika waktu istirahat masih sangat-sangat lama. Kembali aku masuk ke dalam kamar mandi dan menunggu waktu istirahat habis.
25 menit kemudian aku mendengar bahwa waktu istirahat telah habis, aku tersenyum puas dan segera keluar dari kamar mandi. Aku masih menunggu sekitar 5 menit untuk benar-benar kembali ke kelas, memastikan Dina, Andy dan Axelle sudah kembali ke kelas mereka. Ku lihat kantin sudah sepi dengan murid-murid, segera aku menuju kelas.
“Kemana aja sih? Gak ngrasa ya kalo di tungguin orang?” sebuah suara berat mengagetkanku tapi tak menghentikan langkahku, aku menoleh untuk melihat pemilik suara itu dan memastikan apakah dia sedang bicara denganku atau tidak. Aku semakin terkejut melihat orang yang ada dibelakangku adalah Axelle bahkan aku kehilangan sedikit keseimbangan tubuhku hingga membuatku hampir terjengkang sebelum ada tangan yang menarik tanganku ke arahnya dan justru malah membuatku jatuh kelantai koridor. Kalo di film-film atau di drama percintaan ada adegen seperti ini pasti pemeran wanita jatuh ke pelukan pemeran pria atau pemeran wanita jatuh di atas tubuh pemeran pria dan tanpa sengaja mereka malah ciuman. Lah ini? Emang sih Axelle telah menarik tanganku kearahnya dan HAMPIR memelukku, tapi tiba-tiba Axelle melepaskan tanganku dan membuatku jatuh telungkup di lantai sedangkan dia jatuh terduduk di bangku panjang yang ada di depan tiap kelas disekolah. Rasa malu campur kesal menjadi satu, mungkin wajahku saat ini memerah seperti udang rebus. Aku segera bangun.
“Mmm…maaf ya”kataku lirih sambil tertunduk malu di depannya. Axelle juga ikut berdiri.
“Iya, aku juga minta maaf karna dah buat kamu jatuh” katanya sambil berlalu.
“Eh…Axelle…”
Axelle menghentikan langkahnya dan tanpa menoleh sedikit pun.
“Makasih ya” kataku
Axelle tak menjawab dan langsung melangkahkan kakinya menjauh dariku. Aku semakin merasa bersalah dengan tindakanku barusan. Aku juga semakin malu, sangat malu. Tapi sisi hatiku juga kesal dengan tingkahnya yang sok cool itu. Padahal kalo sama cewek lain dia baik banget, perhatian banget, tapi kenapa sih dia gak pernah sedikit aja baik sama aku. Uh, menyebalkan.!
Tobe continue
A & B part 9
Tiba-tiba Dina tertawa keras, sekarang aku yang berbalik heran menatapnya.
“Ya ampun ternyata kamu ngira kalo aku pacaran ma si…”
“Lha emang kan kalo kalian itu pacaran?”
Dina gantian menarik tanganku kembali ke ruang tamu dan masih sambil tertawa terpingkal-pingkal, Andy yang tadinya sibuk mengerjakan soal jadi ikutan heran melihat Dina tertawa.
“Ada apa sih?”tanyanya.
“Ini lho ada yang lagi salah paham”
“Salah paham tentang apa?”
“Masa aku dikira pacaran ma Axelle? Gak mungkin bangetlah aku pacaran ma dia, ya gak yank?”jawab Dina sambil duduk di sebelah Andy.
“Eh tunggu deh, kok yank?”tanyaku.
“Belva, dari awal sebenernya aku pengen ceritain semuanya ke kamu, tapi gak pernah ada waktu yang tepat. Tadi udah mau aku ceritain malahan kamu potong. Andy inilah pacar aku, bukan Axelle.”jelas Dina setelah tawanya mereda.
“Tapi waktu kamu beli jam dulu kenapa ada Axelle? Waktu itu juga dia pegang jam yang kamu beli kan?”
“Oh jadi kamu lihat?? Iya sebenernya aku emang dah janjian sama si Axelle buat ketemuan, Axelle kan tau banget tentang selera Andy. Mumpung masih ada di tempat yang sama, jadi kalo kurang cocok bisa langsung ditukerin, gitu. Sebenernya waktu itu juga ada Andy, Cuma dia pergi dulu katanya mau ke toilet tapi ternyata mampir di tempat aksesoris buat beliin aku gelang ini” jawab Dina sambil menunjukkan gelang ungu yang melingkar di pergelangan tangannya.
“Terus juga kenapa waktu kamu kerumahku, kamu telpon-telponan sama si Axelle? Waktu pulang juga yang jemput pake motornya Axelle. Terus kamu juga jadi sering rapat OSIS seolah-olah lupa sama aku”
“Kalo itu biar dijelasin ma Andy langsung”
“Iya, jadi gini Belva. Sebenernya aku dah lama suka sama Dina waktu kalian masih kelas 1, tapi sayangnya aku dah punya pacar yang kebetulan kakak kelasku. Selama aku masih pacaran, Axelle yang slalu gencar-gencarnya promosiin Dina ke aku, sampe akhirnya aku putus sama mantan pacarku karna dia mau nerusin kuliahnya ke luar negeri. Setelah itu aku mulai tanggepin promosi si Axelle, aku juga seneng banget waktu tau kalo Dina juga punya rasa yang sama ke aku. Makanya PDKT kami gak pake lama, langsung jadian. Malam itu aku lagi main di rumah Axelle terus aku juga emang pinjem handphone Axelle, soalnya bonusan telponnya gak pernah dipake, hehehehe. Dan Yang jemput Dina itu juga sebenernya aku, pinjem motornya Axelle juga soalnya motorku di pake dia keluar buat beliin adiknya nasi goreng. Dan untuk masalah rapat OSIS itu emang kami bener-bener rapat. Tapi seringnya Axelle gak ikut karna dia bukan panitia dari acara yang mau di buat sama anak OSIS lainnya, kamu kan tau dulu aku juga pernah punya jabatan yang sama kayak Dina, kebetulan Bu Indah memintaku buat bimbing bagian bendahara biar tetep sama kayak bendahara-bendahara sebelumnya”jelas Andy panjang lebar.
Aku merasa sangat malu mendengar penjelasan mereka berdua, aku juga malu dengan Axelle karna telah berpikiran buruk bahkan juga sudah bertindak buruk terhadapnya, padahal aku sebenarnya tak tau apa-apa.
“Jadi selama ini aku udah salah paham sama Axelle donk?”kataku.
“Memang”koor Dina dan Andy.
“Aku harus minta maaf sama Axelle donk?, aduh aku takut dia malah marah”
“Gak kok, Axelle itu orangnya pemaaf, kamu pasti dimaafin ma dia”kata Andy yang berusaha menenangkanku.
“Apa iya dia mau maafin orang yang udah guyur dia pake orange juice dan juga yang udah nampar dia?”
“HAH??!! KAMU NGLAKUIN ITU?”koor Dina dan Andy lagi. Aku hanya mengangguk pelan.
“Astaga, jadi cewek yang dicritain ma Axelle itu kamu?”gumam Andy. “Waktu itu dia uring-uringan di rumah, dia marah banget”terusnya.
Mendengar itu aku jadi semakain merasa bersalah, bahkan air mataku sudah berebut untuk melompat keluar. Dina pindah duduk di sebelahku dan langsung memelukku. Tangisku pun langsung pecah, aku memang tipe cewek yang mudah meneteskan air mata saat merasa bersalah atau saat melihat sesuatu yang sangat menyentuh hatiku.
“Ya udah jangan nagis lagi ya, besok aku bujuk Axelle biar mau maafin kamu”
“Makasih ya Kak”kataku dalam isak tangisku. Andy hanya mengangguk pelan.
To be continue
Senin, 21 Mei 2012
A & B part 8
Malam harinya ketika aku sedang sibuk mengerjakan tugas Akuntansi, Dina datang kerumahku. Katanya ingin meminta tolong padaku untuk membuatkan puisi untuk tugas Bahasa Indonesia-nya.
Aku pun mengalah dan segera mengambil kertas untuk tempat jariku menari-nari menggoreskan kata demi kata untuk sahabatku tercinta ini. Ku lirik Dina yang sedang sibuk membolak-balik majalah yang katanya di belinya waktu pulang sekolah tadi. Tiba-tiba HP Dina berteriak melantunkan sebuah lagu Korea.
”Halo...hai sayang?” sapa Dina pada orang yang diseberang sana. Aku kembali mengalihkan perhatianku pada secarik kertas dihadapanku, tak ingin mencampuri urusan orang lain. 15 menit kemudian lahirlah satu karyaku, tapi Dina masih asyik dengan telponnya. Aku pun meneruskan PR yang belum selesai tadi. Konsentrasiku buyar karena mendengar Dina yang terus mesra-mesraan dengan seseorang diseberang sana yang aku tak tau siapa dia. Tapi aku terus mencoba mengembalikan konsentrasiku untuk 2 soal ini. Aku mengomel dalam hati, 2 soal ini sangat menguras energi berfikirku. Karna memang kelemahanku adalah pelajaran tentang hitungan. Rasanya aku ingin menyerah saja. Aku Sudah tak terdengar suara Dina yang ngobrol dengan telponnya. Dina yang melihatku kesusahan pun segera turun tangan untuk membantuku menyelesaikan tugasku. Dalam waktu 5 menit 2 soalku terjawab sudah. Dina beranjak dari duduknya dan berjalan menjauh dariku.
”Mau pulang?” tanyaku.
”Gak, aku pengen ke kamar mandi” jawabnya tanpa menoleh padaku. Aku melihat handphone Dina tergeletak atas kasurku. Aku segera mengambilnya dan melihat siapa yang menelponnya tadi. Di layar tertera nama Axelle. Kini terjawab sudah rasa penasaranku selama ini, sudah bisa dipastikan pacar barunya Dina adalah Axelle. Segera aku meletakkan handphone Dina kembali. Tak lama kemudian Dina keluar kamar mandi.
”Aku pulang ya, Va” katanya.
”Cepet banget?”
”Iya, mas pacar dah jemput soalnya, hihihi”
”Hm..pantesan. Jadi kamu kesini cuma buat nyuruh aku ngerjain tugas kamu??? Huh, dasar!”
”Eeh...jangan ngambek donk, kan tadi aku juga dah bantuin kamu ngerjain PR kamu” jawab Dina sambil memelukku dari belakang.
”Iya deh tapi aku jangan dicuekin mulu donk”
”Iya, maaf ya aku jadi sibuk banget, janji deh besok seharian kita bareng lagi”
”Bener?!”
”Hu’um”
Aku pun tersenyum melepas kepulangannya bahkan aku mengantarkan Dina sampai di depan gerbang. Ternyata sudah ada sebuah Ducati 999 warna merah dengan pengendaranya yang berjaket kulit senada dengan warna motornya. Meskipun dia tidak membuka kaca helmnya aku bisa mengenali siapa pengemudi itu. Siapa lagi kalo bukan Axelle sang pemilik motor tersebut. Ya, Axelle memang sering membawa motor sport itu ke sekolah. Aku segera masuk ke dalam rumah setelah Dina dan ’pacarnya’ menghilang dari pandanganku.
***
Besoknya di sekolah ternyata si Dina tidak menepati janjinya, aku kembali sendirian di kantin setelah Dina mendapat telpon dari sang pacar untuk rapat OSIS dadakan. Aku berhenti menghisap gelas berisi jus melon kesukaanku karna lagi-lagi ada yang menyita perhatianku. Tak jauh dari mejaku aku melihat Rasty bersama Axelle sedang bermesraan, bahkan saat Rasty menyuapkan potongan bakso, Axelle tak ragu menerimanya. Melihat itu aku reflek berdiri dan menghampiri meja mereka.
‘Braak!!’
Rasty dan Axelle terlonjak kaget dengan tindakanku barusan. Tanpa mengatakan apa-apa aku segera mengguyurkan segelas jus jeruk yang ada dihadapanku ke wajah Axelle. Sontak Axelle berdiri dan semua orang di kantin menoleh kearah kami. Aku tak peduli, amarahku mengalahkan rasa malu ku.
“Eh kamu apa-apaan sih?!” bentak Rasty yang ikut-ikutan berdiri dan sambil membantu Axelle membersihkan wajahnya dengan tissue.
“Diem kamu! Ini bukan urusan kamu!” bentakku
“Maksud kamu apa sih? Apa salahku sampe kamu lakuin ini ke aku?” Tanya Axelle padaku dengan nada tanpa marah.
“Hah, gak ngrasa ya apa salah kamu? Dasar cowok gak setia, dah punya pacar masih aja nyari cewek lain!!”
“Pacar?? Maksud kamu itu apa sih?” Tanya Axelle lagi dan semakin bingung.
“Pake tanya lagi!! Emang ya, kamu tuh gak ada bedanya sama cowok lain yang suka mainin perasaan cewek. Tolong donk kamu ngertiin perasaan si Dina, gimana kalo dia tau apa yang kamu lakuin sama Rasty disini”
Axelle tak menjawab cercaanku bahkan wajahnya semakin bingung dengan apa yang aku ucapkan.
“Gak usah sok polos deh, udah nembak Dina masih ja jalan ma Rasty!! Dasar player!! Lihat aja nanti aku bakal cerita semuanya ke Dina”
“Hah, nembak Dina? Kamu salah Belva, aku tuh gak jadian ma Dina, aku juga gak pernah nembak Dina”
“WHAATT????!!!”
‘PLAK!’
Reflek aku melayangkan tanganku ke pipi Axelle. Dan itu sukses membuat orang yang menonton kami semakin ternganga lebar. Tanpa berkata-kata lagi aku segera pergi dengan rasa sesak didada. Aku ingin menangis, tak kuasa aku jika harus menceritakan semua ini pada Dina, dia pasti akan sangat terpukul dengan semua ini. Aku merasa bersalah karna selama ini aku menyembunyikan rahasia Axelle. Tanpa bisa aku menahannya, air mataku meloncat jatuh ke pipiku.
Malam harinya aku segera mendatangi rumah Dina tanpa memberitaunya terlebih dahulu. Aku melajukan motor bebekku dengan kecepatan yang lumayan tinggi, aku tak ingin menunda-nunda lagi. Perjalanan 15 menit terasa berjam-jam untukku. Sampai di depan pagar rumah Dina, aku segera masuk tanpa memasukkan motorku ke garasi seperti biasanya, di halaman rumah Dina telah bertengger sebuah Ducati Streetfighter merah.
“Hai Din” sapaku melihat Dina bersama dengan seseorang di ruang tamu.
“Eh belva, tumben main gak bilang-bilang dulu. Ada apa?” kata Dina. Aku masuk dan duduk disebelahnya.
“Lho, kak Andy?? Ngapain disini?” Tanyaku terkejut melihat Andy, sepupu Axelle, ada dirumah Dina.
“Iya, nih lagi bantuin si Dina ngerjain PR kimia”
Tak heran jika Dina meminta Andy untuk mengajarinya tentang kimia, karena memang Andy pernah memenangkan olimpiade kimia tapi aku tak tau tingkat apa,hehehe aku memang tak pernah peduli dengan urusan orang lain.
“Oh…eh Din, ada yang mau aku omongin nih” kataku.
“Oiya??? Tentang apa? Eh sebelumnya mumpung kamu disini sekalian aku kasih tau kalo pacarku…”
“Aku dah tau, aku kesini juga mau bicarain masalah pacar kamu yang kurang ajar itu” potongku.
“Hah??? Maksudnya?”
Sebelum menjawab aku segera menarik tangan Dina agar menjauh dari Andy, aku membawanya masuk ke dalam kamarnya yang sudah aku anggap rumahku sendiri. Aku segera menceritakan tentang perbuatan Axellle yang aku tau selama ini, aku juga memelas meminta maaf karna aku tak pernah bisa menyampaikan hal itu padanya. Dina hanya bengong melihat penjelasanku.
Aku tau mungkin itu membuatnya syok, tak akan menyangka jika kekasih yang selama ini dia banggakan kini justru menghianatinya.
tobe continue
Minggu, 22 April 2012
A & B part 7
”Aku jadian!”serunya disusul dengan tawa renyahnya, justru aku yang terdiam mendengar kabar tersebut, aku marah bahkan ingin aku katakan semuanya tentang Axelle tadi sore. Tapi, aku tak tega jika harus menghancurkan kebahagiaan temanku ini, apa lagi baru kali ini si Dina pacaran. Aku bingung harus mengucapkan kata selamat ataukah justru malah menyuruhnya untuk segera memutuskan Axelle.
”Va, kamu dengar kan?” tanya Dina yang rupanya menyadari ketidakbahagiaanku dengan berita tersebut.
”Oh iya Din, aku denger kok. Aku kaget aja denger berita itu. Oiya,selamat ya”
”Iya, makasih ya Va. Besok aku traktir deh di kantin. Ok,ok,ok?”
”Oke Dina”
Tak lama kemudian Dina menutup telponnya. Aku masih termenung duduk di tepi kasurku. Aku tak habis pikir dengan si Axelle yang tega sekali melakukan hal itu pada Dina, sahabatku. Bahkan tadi Dina bilang kedua orang tuanya ada saat Dina di ’tembak’. Aduuh, dimana sih hati nurani si Axelle itu??? Dasar cowok tak tau malu, bayangkan saja baru tadi sore dia mesra-mesraan dengan Rasty tapi malam harinya dia malah nembak Dina. Atau mungkin si Axelle baru sadar kalo tindakannya yang tadi sore itu salah, terus dia akhirnya memutuskan bahwa cewek terbaik buatnya adalah si Dina, begitu? Hm...ya, mungkin memang begitu. Ya sudahlah, lagian si Dina sangat bahagia rasanya, tak pantas jika sahabatku yang sengaja berbagi kebahagiaan denganku tapi justru aku tak ikut bahagia.
Aku bangun dari dudukku dan segera mematikan laptopku, aku harus segera tidur supaya besok tidak bangun kesiangan.
Besok harinya aku berangkat sekolah diantar oleh papaku, katanya ada urusan penting yang kebetulan searah dengan sekolahku. Aku sih ikut saja toh tidak setiap hari aku diantar papaku tersayang,hehehehe. Sampai sekolah si Dina sudah menungguku di depan kelasku.
”Pagi Belva”
”Pagi Din”
”Ayok ke kantin sekarang , aku pengen traktir kamu”
”Hah, masa pagi-pagi gini kamu ngajak ke kantin? Aku tadi udah sarapan dirumah, gak kuat kalo diisi lagi”
”Aduh kalo ntar aku gak bisa, nanti istirahat aku ada rapat OSIS”
”Hm...rapat kok terus sih? Mau rapat apa mau pacaran?”
”Hehehe, sambil menyelam minum airlah, Va. Ngirit waktu gitu lho. Ayo kamu mau gak aku traktir??”
”Ogah ah, aku gak pengen di traktir tapi orang yang traktir aku gak tenang gara-gara sibuk!” kataku ketus.
”Yaaaaah, kok ngambek sih?”
”Kalo gitu kamu traktir aku kapan-kapan aja, cari waktu yang pas”
”Iya,iya. Maaf ya sayang” kata Dina sambil memelukku erat. Aku tak tega juga melihat wajahnya yang terlihat bersalah. Memang sejak dirinya aktif di OSIS seakan-akan Dina tak punya waktu lagi untukku kecuali hari minggu itu juga sangat jarang. Aku sebagai sahabatnya kadang merasa sedih jika Dina tak seperti dulu yang slalu ada untukku. Ah ya sudahlah, yang penting Dina masih ingat sama aku meski pun tidak seperti dulu. Setelah itu, Dina pergi kekelasnya. Maklum Dina anak IPA sedangkan aku anak IPS, jadi kami berdua tidak satu kelas.
Hari ini rasanya mood ku sedang tak baik, seakan-akan susah sekali untuk tersenyum. Sampai-sampai pak Naga guru Sejarahku tak berani bertanya atau menyuruhku untuk maju ke depan untuk mengerjakan soal yang dibuatnya. Bagi ku hari ini waktu berjalan sangat lambat bahkan lebih lambat dari jalannya siput mungkin jika bisa di adu akan lebih cepat si siput.
”Kamu kenapa, Va?” tanya Rina teman sebangkuku. Aku hanya menggeleng dan sedikit tersenyum. Rina pun ikut tersenyum dia tau itu berarti aku sedang tak ingin di ganggu.
Lagi-lagi aku pulang sekolah seorang diri tanpa Dina yang biasa menemaniku menunggu jemputan. Aku duduk di bawah pohon dekat dengan gerbang sekolah, sebuah jazz silver melintas di depanku dan berhenti. Perlahan kaca jendela tersebut turun. Muncul Dina dengan senyum manisnya.
”Belva...pulang bareng kita aja yuk” ajaknya
”Iya dari pada nungguin jemputan yang gak dateng-dateng” sahut Andy yang duduk dibelakang stir mobil.
Aku melihat masih ada tempat duduk di jok belakang, di sebelah Axelle yang sedang asyik dengan handphone miliknya. Tapi aku menggeleng menjawab ajakan Dina dan Andy tersebut, lagian aku males kalo harus duduk sebelahan dengan si cowok nyebelin itu. Akhirnya mobill tersebut melaju meninggalkanku setelah aku yakin tak ingin pulang bersama mereka.
10 menit setelah kepergian Dina, supir keluargaku pun datang. Aku segera pulang kerumah dan merebahkan tubuhku menghilangkan lelah yang sedari tadi menghinggapiku.
#to be continue
A & B PART 6
Keesokan harinya Dina datang ke kelasku sambil ngomel-ngomel karna kemarin aku tinggal tanpa memberinya kabar, aku hanya bisa nyengir kuda karna kemarin setelah pulang aku langsung tertidur pulas sehingga lupa menelponnya seperti rencanaku sebelumnya.
”Sorry ya Din,kemarin mama telpon minta aku cepet-cepet pulang katanya sih penting banget gitu gak taunya Cuma disuruh nyariin buku yang kemarin aku beliin buat mama” jelasku bohong.
”Oh...gitu ya kirain kamu marah ma aku. Untugnya kemarin ada si Axelle jadi aku di anterin dia pulang. Eh aku juga dah ngasihin jam yang aku beli kemarin lho.”
”Oya?? Terus dia gimana?? Pastinya suka donk?”kataku pura-pura terkejut.
”Oh jelas donk, dia suka banget malahan dia juga ngasih aku ini” jawab Dina sambil memperlihatkan gelang warna ungu yang melingkar cantik dipergalangan tangannya.
”Wah dia tau warna kesukaan kamu juga ya?? Ih...so sweet bangeeeet. Jadi pengen,hehehehe”
”Iya aku juga gak nyangka kalo dia ngerti warna kesukaanku. Kemarin aku sebenernya juga pengen ngenalin dia ke kamu tapi nggak jadi habisnya kamu keburu pulang sih”
”Emang siapa sih dia? Namanya siapa?”
”Namanya? Hm...janganlah ntar kalian kenalan sendiri aja deh. Kan gak seru kalo aku bilang sekarang”
”Halah... inisialnya aja deh. Pleaseeeeee!!”
”Ya udah deh... inisialnya A”
Tu kan... Dina bilang inisial gebetannya itu namanya A. A untuk Axelle. Astaga!!! Ternyata beneran, haduh bisa gawat kalo si nenek sihir Rasty itu bisa tau tentang hubungan Dina sama Axelle, apalagi waktu di perpustakaan dulu aku bilang ma si Rasty kalo mereka gak ada hubungan sama sekali.
”Va..kok diem?”
”Eh...e...wah..bagus donk”
”Bagus? Apanya yang bagus?”
”Eh...maksudku bagus kalo kalian bisa jadian”
”Oh...iya moga aja deh ya” kata Dina sambil cengar-cengir.
Untung bel masuk segera terdengar sehingga bisa menyelamatkan aku dari ceracauan Dina tentang si Axelle itu. Tapi sebelum pergi ke kelasnya, Dina mengatakan kalo dia tak bisa menemaniku pulang alasannya karna mau di antar oleh si ’calon pacar”. Meskipun sangat terpaksa aku hanya mengangguk dengan senyuman sangat-sangat ngirit. Kesal juga rasanya sejak dia sibuk PDKT sama si Axelle, si Dina yang dulunya slalu ada untukku sekarang jauuuuh berbeda, dikit-dikit OSIS katanya penting gak taunya Cuma pengen deket sama si Axelle,sang sekertaris OSIS yang terkenalnya ngalahin ketua OSIS, gak kayak di sekolah lainnya kan biasanya yang terkenal itu ketua OSIS.
Dari dulu aku slalu heran apa sih sebenarnya hebatnya si Axelle itu?? Kalo di lihat dari fisiknya menurutku sama sekali gak ada keren-kerenya karena Axelle itu tipe cowok yang punya badan kurus dan tinggi jadi mirip-mirip genter gitu, trus kalo dilihat dari wajahnya menurutku si Axelle itu tipe cowok yang punya wajah biasa aja bahkan jauh dari kata GANTENG, terus kalo dilihat dari prestasi belajarnya menurut aku kayaknya gak ada spesialnya juga yaa sedang-sedang sajalah, kalo dilihat dari sifatnya menurut aku dia itu dingin banget mungkin ngalahin es yang ada di freezer kulkas dirumahku soalnya aku belum pernah ngerasain dinginnya salju,hehehehe.
”BELVAA!!!”
”Eh iya pak?”aku reflek berdiri dari kursiku
”Jika anda hanya ingin berkhayal jangan dikelas saya, silakan anda keluar”kata pak Adit dengan tegas,guru Bahasa Indonesiaku itu memang sangat keras dalam mendidik muridnya, saat sedang ada kelas beliau sangat tak suka jika ada yang mengganggunnya sebentar saja bahkan sulit untuk tersenyum jika sedang mengajar.
”Saya tidak berkhayal pak, dan masih pengen ikut pelajaran bapak”
”Kalau begitu perhatikan saya”
”Iya pak”
Haduh,untung mood beliau sedang bagus jika tidak,mungkin pak Aditlah yang sudah keluar dari kelas sejak tadi.
****
Hari ini lagi-lagi aku pulang sendirian karna si Dina sudah pulang sajak tadi, aku pulang agak sorean karna mengikuti les bahasa inggris. Tiba-tiba langkahku terhenti ketika melihat pemandangan didepan mataku.
”Ngapain dia ma rasty?”tanyaku heran, karna penasaran aku semakin memperhatikan Axelle dan Rasty dari dalam kelas. Mereka berdua terlihat sangat akrab bahkan si Rasty asyik menggelayut manja dilengan Axelle, parahnya lagi si Axelle terlihat sangat menikmati tindakan Rasty tersebut. Melihat itu rasanya hatiku terbakar, bukan karna cemburu tapi karna hatiku sakit melihat orang yang dicintai sahabatku itu rela menyakitinya di belakangnya.
Segera kuambil handphoneku dan mengetik pesan singkat untuk Dina, menanyakan keberadaannya sekarang. Dan tak lama kemudian Dina membalas pesanku dan mengatakan jika Dina sudah ada dirumah sejak jam 3 tadi.
”Ah kurang ajar! Dasar cowok!!!!” umpatku. Aku pun segera pulang sebelum mamaku ngomel-ngomel karna aku tak kunjung pulang.
Malam harinya saat aku sedang asyik main game di laptop kesayanganku, HP ku berdering tanda ada telpon yang masuk, segera aku klik tanda ’pause’ pada layar laptop lalu mengangkat telpon yang ternyata dari Dina. Nada bicaranya sangat ceria, aku pun segera tau bahwa ada kabar bahagia yag pastinya ingin dia bagi denganku.
# tobe continue
Sabtu, 14 April 2012
A & B part 5
Episode 5
Aku masih saja manyun karan ulah Dina tadi.
”Kita mau kemana sih?? Kayaknya dari tadi Cuma muter-muter tempat yang sama deh” protesku.
”Eh bawel!! Diem ja napa, aku lagi mau nyari kado nih buat someone”
”Buat sapa mangnya? Tante mia? Kayaknya ultahnya masih lama deh. Trus sapa dunk? Oh...om Edi ya? Eh tapi kan om Edi ultahnya dah lewat. Trus kamu beli kado buat sapa donk Din? Kan kamu gak punya kakak atau adik apalagi pacar!!! Hayo kamu mau ngasih kado ke sapa???”
”Iiiih dasar beo!!! Bawel banget sih kamu, aku beli kado bukan buat keluargaku juga bukan buat pacarku...”
”Terus?”
”Gebetanku,hehehehehe”
”Hm...kok kamu gak pernah bilang?!!!”kataku sambil menarik tubuhnya menghadapku tak lupa tatapan introgasiku.
”Hehehehehe,ntar juga tau kok”jawab Dina sambil berlalu, dan aku pun semakin manyun di buatnya.
”Eh,menurut kamu kalo sepatu gimana?” tanya Dina padaku. Aku menggeleng. ”Kalo buku tulis?”
”Hah?!! Buku tulis?Emangnya gebetan kamu itu anak TK?”
Dina manyun dan berlalu dariku menuju rak bagian boneka dan buku-buku. Aku kembali asyik dengan game dihp-ku. Lagi asyik-asyiknya main game,Dina kembali menggangguku dengan mencolek pipi cubby-ku.
”Haduh!!!! Apaan sih?!”saat aku menoleh aku melihat boneka dolpin dengan ukuran yang lumayan besar hingga yang membawanya pun tak bisa aku lihat. Aku terdia untuk sesaat menunggu pembawa boneka itu menunjukkan batang hidungnya. Tapi,parahnya hati kecilku berbisik usil hingga membuatku tersenyum’wah jangan-jangan cowok ganteng yang diem-diem naksir berat ma aku...’ belum slesai bergumam tiba-tiba seraut wajah manis muncul dari balik dolpin tersebut dan dia berkata
”Kalo yang ini bagus ya,Va?”tanyanya lembut.
”Yaaah...kirain penggemar rahasiaku yang mau nyatain cinta ke aku”celetukku kecewa. Dina malah tertawa mendengar ucapanku barusan.
”Mana ada yang mau ma kamu,Va? Profesi kamu ja blm ganti kok”ejek Dina.
Aku mencibir sambil mencubit lengannya. ”Eh gebetan kamu itu sebenernya cewek pa cowok sih??Atau jangan-jangan laki-laki setengah dewi?”
”Enak ja...mana doyan aku ma yang blasteran gak jelas gitu??”
”Yaaaah, kirain kamu doyan ma yang punya 2 dunia gitu,hahahaha”
”Aaaah dikira kodok yang bisa hidup didua dunia?? Udah ah,yang mana ni jadinya?”
”Mang mau dikasih kapan?”
”Kalo bisa sih sekarang,Va. Dia ngajak ketemuannya sekarang kok.”
”Hm....ya udah kasih aja jam tangan aja gimana?”
Dina berpikir sejenak,lalu tersenyum senang sambil mengangguk semangat. Ditariknya tanganku untuk mendekati meja bagian jam yang tak jauh dari kasir. Akhirnya Dina menemukan sebuah jam tangan yang katanya cocok untuk sang gebetan itu setelah memilih dalam waktu setengah jam. Sebuah jam tangan terbuat dari karet berwarna hijau muda. Cool.
Setelah itu kami pun segera mencari tempat untuk memberi makan cacing-cacing didalam perut kami yang dari tadi sudah pada demo itu.
Hm...sepiring burger dengan kentang goreng dan segelas pepsi sudah siap didepan mata kami,rasanya mereka begitu menggoda bagi kami dan tanpa menunggu lama lagi isi piring tersebut sudah pindah di tangan kami...nyam-nyam hehehehe. Tak lama setelah makan, aku tiba-tiba merasa ingin buang air kecil jadi aku pun meninggalkan Dina sendirian. Ternyata di kamar kecil ngantri banyaaaak banget dan dengan terpaksa aku pun menunggu.
Kurang lebih 10 menitan kemudian aku pun segera menghampiri sobat baikku yang mungkin sudah memasang wajah berlipat-lipat itu. Langkahku terhenti melihat si Dina sedang asyik bicara dengan Axelle dan yang semkin membuatku terheran-heran adalah di tangan Axelle ada jam tangan yang baru dibeli Dina tadi. Mereka terlihat sangat akrab, aku pun semakin curiga dengan pemandangan didepanku.
”Astaga, jangan-jangan gebetan Dina itu si Axelle!!!” tebakku. Aku pun memutuskan untuk segera pulang dari pada aku mengganggu mereka berdua, setelah sampai rumah aku akan menelpon Dina saja.
#to be continue
Senin, 07 Maret 2011
A & B PART 4
"BELVAAAAAAA"
Belva membuka matanya perlahan.
Suara mama tercintanya itu membuyarkan mimpi indahnya barusan. Diliriknya jam dinding yang menempel manis di kamarnya itu.
Pukul 07.30
Belva kembali menarik selimut tebalnya dan memejamkan mata lagi.
Toh udara di luar masih dingin,mungkin karna semalam hujan deras.
'tok,tok,tok'
"Belvaaaa!!!"
"Astaga!!!!
Baru juga mau merem udah da yang ganggu lagi.
Perasaan ini hari minggu deh kenapa banyak bgt sih yang ganggu,pada gak punya kerjaan apa ya?"runtuknya dalam hati sambil bangkit dari ranjang untuk membuka pintu.
"Belva!!" Dina langsung memeluknya erat. Belva hanya diam saja.
"Kamu tau gak sih?"
"Gak"jawabnya singkat sambil melengkah menuju ranjang dan berniat untuk tidur lagi.
Tapi ternyata Dina lebih dulu merebut impian Bbelva, ia melompat dan tidur lerlentang,praktis sudah tak ada tempat untuknya. Belva menghela nafas panjang tanda kecewa.
"Kamu ngapain sih pagi2 gini dah gangguin orang?"omelnya sambil duduk di samping ranjang lalu meletakkan kepalanya di tepi ranjang.
"Aku mau ngajak kamu ke toko buku,semalem si Axelle ngasih tau kalo ada buku baru"
"Ntar ja ke toko bukunya ya,jam 3 gitu kek"
"Hah?!!Enak ja !! Aku gak mau lagi kehabisan buku itu,sayang. Katanya si Axelle sih buku itu bagus, semalam dia telpon aku buat critain isi buku itu. Aduuh aku jadi makin penasaran bgt,tau!! Eh ntar habis nyari buku kita mampir ke Matahari bentar ya aku pengen beli baju ma rok baru,ok?"kata Dina panjang lebar, tapi Belva tak menyahut.
"Bel??"panggil Dina. Sama saja Belva tetep terdiam.
Dina menengok temannya.
"Ya Allah, Belva!!!. kirain kamu diem gara-gara dengerin curhatanku eh gak taunya kamu malah khusyuk tidur,dasar!! bangun gak,kamu!!"Dina turun ranjang
"belvaaaaaa!!!!!!!"dina menggoyang-goyang tubuh belvahingga tubuh sahabatnya itu terguncang hebat. Belva membuka matanya perlahan.
"Apaan sih aku ngantuk bgt ni,Din?!"
Dina jadi geram melihat sohibnya yang satu ini. Akhirnya Dina menarik tangan Belva agar berdiri lalu mendorongnya masuk kamar mandi yang ada di sebelah kamar Belva.
Sampai di kamar mandi Dina menganmbil sedikit air dengan tangannya lalu memercikkan air itu pada wajah Belva, sontak Belva membuka matanya lebar-lebar merasakan air yang dingin itu di wajahnya.
"Hahahahha,rasain lu!"seru Dina kemudian kabur sebelum Belva menyerangnya.
"Dinaaaaaaaaa"triak Belva histeris.
Meski begitu Belva akhirnya pun terpaksa menayambar handuk yang ada di jemuran atas.
Tak lama kemudian Belva dan Dina sudah siap untuk pergi sesuai yang mereka rencanakan (tepatnya Dina yang merencanakan).
***
kedua gadis SMA itu berjalan menuju toko buku yang jaraknya agak jauh dari rumah Belva
Belva membuka matanya perlahan.
Suara mama tercintanya itu membuyarkan mimpi indahnya barusan. Diliriknya jam dinding yang menempel manis di kamarnya itu.
Pukul 07.30
Belva kembali menarik selimut tebalnya dan memejamkan mata lagi.
Toh udara di luar masih dingin,mungkin karna semalam hujan deras.
'tok,tok,tok'
"Belvaaaa!!!"
"Astaga!!!!
Baru juga mau merem udah da yang ganggu lagi.
Perasaan ini hari minggu deh kenapa banyak bgt sih yang ganggu,pada gak punya kerjaan apa ya?"runtuknya dalam hati sambil bangkit dari ranjang untuk membuka pintu.
"Belva!!" Dina langsung memeluknya erat. Belva hanya diam saja.
"Kamu tau gak sih?"
"Gak"jawabnya singkat sambil melengkah menuju ranjang dan berniat untuk tidur lagi.
Tapi ternyata Dina lebih dulu merebut impian Bbelva, ia melompat dan tidur lerlentang,praktis sudah tak ada tempat untuknya. Belva menghela nafas panjang tanda kecewa.
"Kamu ngapain sih pagi2 gini dah gangguin orang?"omelnya sambil duduk di samping ranjang lalu meletakkan kepalanya di tepi ranjang.
"Aku mau ngajak kamu ke toko buku,semalem si Axelle ngasih tau kalo ada buku baru"
"Ntar ja ke toko bukunya ya,jam 3 gitu kek"
"Hah?!!Enak ja !! Aku gak mau lagi kehabisan buku itu,sayang. Katanya si Axelle sih buku itu bagus, semalam dia telpon aku buat critain isi buku itu. Aduuh aku jadi makin penasaran bgt,tau!! Eh ntar habis nyari buku kita mampir ke Matahari bentar ya aku pengen beli baju ma rok baru,ok?"kata Dina panjang lebar, tapi Belva tak menyahut.
"Bel??"panggil Dina. Sama saja Belva tetep terdiam.
Dina menengok temannya.
"Ya Allah, Belva!!!. kirain kamu diem gara-gara dengerin curhatanku eh gak taunya kamu malah khusyuk tidur,dasar!! bangun gak,kamu!!"Dina turun ranjang
"belvaaaaaa!!!!!!!"dina menggoyang-goyang tubuh belvahingga tubuh sahabatnya itu terguncang hebat. Belva membuka matanya perlahan.
"Apaan sih aku ngantuk bgt ni,Din?!"
Dina jadi geram melihat sohibnya yang satu ini. Akhirnya Dina menarik tangan Belva agar berdiri lalu mendorongnya masuk kamar mandi yang ada di sebelah kamar Belva.
Sampai di kamar mandi Dina menganmbil sedikit air dengan tangannya lalu memercikkan air itu pada wajah Belva, sontak Belva membuka matanya lebar-lebar merasakan air yang dingin itu di wajahnya.
"Hahahahha,rasain lu!"seru Dina kemudian kabur sebelum Belva menyerangnya.
"Dinaaaaaaaaa"triak Belva histeris.
Meski begitu Belva akhirnya pun terpaksa menayambar handuk yang ada di jemuran atas.
Tak lama kemudian Belva dan Dina sudah siap untuk pergi sesuai yang mereka rencanakan (tepatnya Dina yang merencanakan).
***
kedua gadis SMA itu berjalan menuju toko buku yang jaraknya agak jauh dari rumah Belva
Langganan:
Komentar (Atom)