siang ini Aku sibuk dengan tugas yang di berikan guru bahasa Indonesia. Tak jauh dariku ku lihat si Dina yang juga sedang sibuk membolak-balik buku yang ada di rak perpustakaan sekolah.
Tugas kali ini yang di berikan adalah tugas meresume sebuah novel tapi tugas itu harus di kumpulkan hari ini juga. Akhirnya
perpustakaan yang biasanya sepi ini mendadak ramai karena di padati para siswa yang ingin mencari referensi untuk resumenya..
“Belva”seorang gadis cantik menghampiriku dengan sebuah buku yang ada di tangannya. Wajahnya yang ayu terlihat murung.
“Ada apa, Resty?”
“Aku di ajarin dunk”
Aku hanya mengangguk sambil tersenyum. Resty adalah primadona di angkatanku. Selain Wajah orientalnya yang menarik, Resty bukanlah pribadi yang sombong. Dia tetap bergaul dengan smua kalangan di sekolah meski dia juga seorang model. Hal ini yang membuatnya semakin terkenal dan di sukai banyak orang.
Resty juga sering meminta bantuanku dan Dina jika ada materi yang tak di pahaminya. Karena Resty jarang masuk sekolah dengan padatnya jadwal pemotretan yang menyita waktu sekolahnya. Aku dan Dina pernah memberikan masukan untuk lebih mementingkan pendidikannya dari pada kariernya. Tapi Resty bilang bahwa mamanya pun tak keberatan jika ia malah justru menomorduakan pendidikannya.
Akhirnya aku dan Dina hanya bisa pasrah dengan jawaban Resty itu.
Ketika sedang asyiknya menerangkan materi pada Resty, tiba-tiba handphone Dina yang ada di sebelahku bergetar panjang, tanda ada telpon masuk.
Aku melemparkan pandangan pada Dina yang masih asyik membolak-balik lembar demi lembar buku yang di pegangnya. Kemudian aku pun berniat menjawab panggilan itu. Ada nama Axelle yang tertera di layer HP Dina.
“Halo”kataku ” Dina lagi bikin tugas,ni aku temennya. Ada perlu apa ya?Oh gitu?Ya nanti aku sampaikan. Iya sama-sama”
‘klik’
Sambungan telekomunikasi pun terputus.
Aku melanjutkan menerangkan penjelasanku pada Resty yang tadi sempat terputus. Tak lama kemudian Dina berjalan menuju meja kami.
Aku memberitaunya tentang apa yang di katakan Axelle di HP. Dina hanya mengangguk paham.
“Eh kalian kenal Axelle juga?Hm….aku naksir berat lho ma dia”celetuk Resty sambil sibuk menulis.
“Iya aku sering ma dia”jawab Dina. Resty hanya tersenyum kecut.
“Eh…habis ini ke kantin yuk,Din”ajakku segera sebelum Resty menanggapi kata-kata Dina. Karna sebenarnya walaupun Resty baik jiwa sombngnya sering muncul jika dia menginginkan sesuatu. Dan itu hanya aku yang tau karena Resty untuk hal ini sangat tertutup pada orang lain kecuali terpaksa. Pernah suatu ketika aku dan Resty sedang pergi ke sebuah toko buku untuk mencari buku novel sebagai kado ultah Dina. Kebetulan waktu itu Dina memang sedang mengincar sebuah buku dan sayangnya saat itu pula di tempat itu buku tersebut hanya tersisa satu. Akhirnya Resty harus berebut dengan pembeli lainnya yang kelihatannya anak kuliahan.
“Ini saya dulu yang pegang”kata anak kulihan itu
“Enak aja, gue dah liat ini duluan”bantah Resty smabil menarik buku novel tersebut. Hm…logat keartisannya mulai muncul.
“Res, udahan dunk. Malu ah”bisikku sambil memegangi tangannya.
“Nggak bisa, Belva!!!! Pokoknya ni buku harus jadi milik gue!!”
“Kan kita masih bisa nyari di tempat lain”bujukku lagi tapi Resty tak menghiraukan lagi kata-kataku.
Dengan sangat terpaksa aku meminta pemilik toko buku itu turun tangan.
“Saya yang beli buku ini, Pak”kata cewek itu.
“Kagak bisa!!Gue yang beli itu”kata Resty nyolot. “Gue berani bayar buku ini 10 kali lipat dari harga biasanya”
Aku dan semua orang yang mendengarnya sontak melotot tak percaya dengan omongan Resty. Termasuk si pemilik toko buku itu.
“Kenapa? Kagak percaya?”tanya Resty. Kemudian dia mengeluarkan dompet bermerk-nya dari dalam tasnya.
“Huh, banyak gaya!!”cibir anak kuliahan tersebut. “Mana mampu anak SMA kok brani bayar mahal?”lanjutnya. dan hal itu memacu amarah Resty.
Di keluarkannya isi dompet itu.
“Nih!!! Gue bayar!”kata Resty sambil mengeluarkan uang seratus ribua sebanyak lima lembar.”Kalo ada sisanya ambil aja”lanjut Resty lalu mengambil buku dari tangan anak kuliahan yang termangu tak percaya lalu menarik lenganku untuk pergi. Tapi tiba-tiba langkahnya terhenti.
“Oia…tenang aja itu uang halal kok. Gue kerja sendiri”katanya sambil melepas kacamata hitamnya.
Dan semua orang semakin terbengong-bengong melihat gadis yang membuat keributan itu adalah seorang model terkenal.
“Ya ampun, itu kan Karina Resty !!!”triak seseorang dengan histerisnya. Resty dan aku pun secepat mungkin berlari keluar dari toko itu sebelum di serbu oleh para penggemar Resty.
Resty menyenggol lenganku.
"Ya?"tanyaku sedikit kaget.
"Aku mau ngomong ma kamu"bisiknya smabil menarikku menjauh dari meja. Aku tersenyum pada Dina dan memberikan isyarat jika aku akan kembali sebentar lagi.
Dina hanya tersenyum manis.
“Ada apa sih?”tanyaku penasaran
“Kamu tau kan kalo apapun yang aku inginkan harus aku dapatkan”jawabnya santai. Aku mengangguk pelan. “Dan kamu tau juga kan kalo aku suka sama Axelle?”
“Terus?”
“Dan aku mau dia jadi milikku”
“Kenapa bilangnya ke aku? Siapa dia siapa aku?”tanyaku sewot.
“Ya kamu bilang aja ke Dina buat jauhin si Axelle”
“Hah, maksud kamu?”
“Kalo gak mau biar aku sendiri yang bilang ma Dina”
“Bentar-betar, pasti kamu ngiranya kalo si Dina pacaran ma Axelle?”
“Lho bukannya gitu ya?”
“Eh…nona Resty perlu kamu tau ya Dina dan Axelle itu Cuma sebatas teman aja gak lebih dari itu…”
“Tapi tadi…”
“Sssst, aku belum selesai!!! Mereka berdua deket karna mereka sama-sama aktivis sekolah, so jangan salah paham ya”jelasku lalu berlalu.
Aku mempercepat langkahku agar segera sampai di meja dimana Dina masih saja sibuk dengan bukunya.
“Ayo pergi”kataku sambil membereskan buku-bukuku.
“Lho mangnya napa sih?”tanya Dina bingung
“Udahlah…ntar aja jelasinnya.”
Dina mengikutiku.
Kami berdua berjalan ke kantin tapi tak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulut kami.
“Kamu kenapa?”tanya Dina lembut.
“Si Resty nyebelin banget tau gak!!”jawabku
“Iya kenapa?”
“Aku gak suka sama sifatnya yang sombong itu”
“Eh…Resty sombong? Jangan gitu dunk. Resty tu temen kita lho”
“Aku gak peduli,pokoknya aku gak suka sama cara dia bersikap untuk dapatin apa yang dia mau”
Dina terdiam saja.
“Jangan bilang kalo ini tentang si Axelle”kata Dina dengan raut muka serius
Aku mengangguk pelan.
Dina menepuk jidatnya keras.
“Mati aku!!!!!”serunya. Aku hanya mengerutkan dahi.
to be continue
like thisssss. . . .
BalasHapus